Others weblink

Powered by  MyPagerank.Net

Selasa, 26 Disember 2017

BERBUAT BAIK DENGAN DIRI SENDIRI ADALAH LEBIH BAIK

Jika manusia selalu mengharap kebaikan dari Tuhannya namun dia tidak pernah memberikan kebaikan untuk sesamanya. Mulailah kita membuang sifat kikir, karena toh kita juga yang akan mendapat manfaat saat memberi orang lain.

إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا-٧-

“Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”
(Al-Isra’ 7)

Sesungguhnya, kekayaan, kemewahan dan kemegahan tidak dapat menjamin kebahagiaan seseorang sekiranya digunakan dengan cara yang salah.

Firman Allah SWT, maksudnya: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Surah Ibrahim:7)



SEJARAH QORUN DALAM AL-QURAN

Qarun adalah seorang yang sangat soleh, baik, sentiasa mengikuti perintah Nabi Musa semasa dia hidup dalam kemiskinan. Suatu hari dia datang menghadap Nabi Musa, meminta Nabi Musa agar dia didoakan menjadi orang kaya, kuat beribadah dan boleh membantu saudara- saudaranya Bani Israil. Nabi Musa lalu mendoakannya dan dengan izin Allah, Qarun menjadi sangat kaya raya. Dia bukan hanya berjaya dalam peternakan, akan tetapi juga diangkat menjadi salah seorang menteri oleh Ramses II yang hidup pada masa itu.

Ulama’ terdahulu seperti al-‘Amasy, Ibrahim al-Nakha’i, ‘Abdullah ibn Harith, Ibnu Juraij dan Qatadah ibn Di’amah bersepakat mengatakan bahawa Qarun adalah anak kepada bapa saudara Nabi Musa a.s. atau sepupu Nabi Musa a.s.. Menurut Qatadah bin Di’amah, Qarun diberi gelaran sebagai al-Munawwar kerana kemerduan suaranya membaca kitab Taurat.

Ketika dinasehati oleh orang-orang apa katanya? Dia menjawab dengan begitu angkuh dan sombongnya

Qarun berkata: "Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku." Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. (Q.S. Al-Qashash : 78)

Maka keluarlah Qarun kepada kaumnya dalam kemegahannya. Berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang telah diberikan kepada Qarun; sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar." (Q.S. Al-Qashash : 79)
Orang-orang yang melihatnya bahkan berharap agar mereka juga memiliki kekayaan yang serupa, padahal ketahuilah itu hanyalah kesenangan dunia dan bersifat binasa, tidak akan kekal dan tidak akan dibawa mati.

Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar." (Q.S. Al-Qashash : 80)

Maka Allah Ta’ala Yang Maha Kuasa menghancurkan dan membenamkan Qarun bersama harta-hartanya ke dalam bumi, yang menunjukkan murka Allah kepada orang-orang yang sombong dan tidak menggunakan pemberian Allah dengan sebaik-baiknya.

Dan jadilah orang-orang yang kemarin mencita-citakan kedudukan Qarun itu, berkata: "Aduhai, benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hambanya dan menyempitkannya; kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita benar-benar Dia telah membenamkan kita (pula). Aduhai benarlah, tidak beruntung orang- orang yang mengingkari (nikmat Allah)." (Q.S. Al-Qashash : 82)

Ketika melihat adzab kepada Qarun, orang-orang yang dulunya menginginkan seperti Qarun segera bertaubat kepada Allah dan mengagungkan-Nya, bahwasannya jikalau mereka seperti Qarun maka mereka juga akan dibinasakan oleh Allah Ta’ala. Karena ketahuilah, orang-orang yang tidak mensyukuri nikmat Allah akan mendapatkan keberuntungan, malah akan mendapat adzab dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Jumaat, 19 Jun 2015

SEJARAH AWAL PENEMUAN GULA PASIR DARI TEBU

Awalnya dalam catatan sejarah ingeris gula tebu dikenal oleh orang-orang Polinesia, kemudian menyebarnya ke India. Pada tahun 510 Sebelum Masehi, ketika menguasai India, Raja Darius dari Persia menemukan ”batang rerumputan yang menghasilkan madu tanpa lebah”. 



Berbagai penemuan manusia lainnya tentang keberadaan tebu yang sangat dirahasiakan dan dijaga ketat pada ketika itu, sedangkan produk olahannya diekspor untuk mengdapatkan keuntungan yang sangat besar ketika itu.

Tanaman tebu diperkirakan sudah sekian lama dibudayakan di Jawa. Perantau China, I-Tsing, mencatat bahwa pada tahun 895 M, gula yang berasal dari tebu dan nira kelapa telah diperdagangkan di Nusantara. 

Sedangkan menurut catatan perjalanan Marcopolo, hingga abad ke-12 di Jawa belum berkembang industri gula seperti yang ada di China dan India. Kedatangan orang Eropa, terutama orang Belanda, pada abad 17 membawa perubahan pada perkembangan tanaman tebu dan industri gula di Jawa.

Selasa, 3 Mac 2015

ORANG-ORANG YANG BERIMAN AKAN SENTIASA DI UJI ALLAH IMANYA

Melayan perasan kerana ujian yang sedang melanda hanya menambah beban yang ada dijiwa. Semakin dilayan, semakin hebat kesannya. Semakin derita rasa dijiwa. Rasa sedih akan menjalar disetiap pelusuk jiwanya sehingga dia merasakan dialah yang paling derita dan orang-orang disekelilingnya pasti tidak memahaminya. akhirnya menjadilah dia orang yang berputus asa kerana ketidakmampuan menanggung derita dijiwanya.

Ya Allah, Apa yang diuji oleh-Mu adalah apa yang termampu ditanggung oleh hamba-hamba-Mu.

Sedarlah wahai manusia, Allah tidak akan membebani hamba-hambaNya melainkan apa yang termampu dihadapi oleh mereka.

Sebagaimana firmannya



bermaksud :
Allah tidak memberati seseorang melainkan apa yang terdaya olehnya. Ia mendapat pahala kebaikan yang diusahakannya, dan ia juga menanggung dosa kejahatan yang diusahakannya. (Mereka berdoa dengan berkata): "Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau mengirakan kami salah jika kami lupa atau kami tersalah. Wahai Tuhan kami ! Janganlah Engkau bebankan kepada kami bebanan yang berat sebagaimana yang telah Engkau bebankan kepada orang-orang yang terdahulu daripada kami. Wahai Tuhan kami! Janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang kami tidak terdaya memikulnya. Dan maafkanlah kesalahan kami, serta ampunkanlah dosa kami, dan berilah rahmat kepada kami. Engkaulah Penolong kami; oleh itu, tolonglah kami untuk mencapai kemenangan terhadap kaum-kaum yang kafir".(Surah al-Baqarah 286)

Malah Rasulullah SAW sendiri turut menyebut di dalam hadisnya yang bermaksud :

Satu ketika Nabi saw ditanya “Siapakah orang yang paling berat ujiannya?”. Maka Baginda menjawab:

“Para Nabi, kemudian orang yang seperti mereka sesudahnya, dan orang semacam mereka berikutnya. Seseorang itu akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Apabila orang itu kuat agamanya maka semakin keras ujiannya. Kalau agamanya lemah maka dia akan diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka musibah dan ujian itu sentiasa menimpa seorang hamba hingga dia ditinggalkan berjalan di atas muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”
(Riwayat Imam Tirmizi)

Sesungguhnya Allah tidak akan berlaku zalim kepada hamba-Nya. Setiap yang diuji itu adalah sesuai dengan tahap kemampuan hamba-Nya. Cuma sebagai hamba, hendaklah berusaha untuk mengatasinya. Sekiranya seseorang itu tidak berusaha untuk mengahadapinya, sudah pasti mereka tidak mampu berhadapan dengan ujian yang sedang menimpanya. Sudah pasti jiwanya akan semakin lemah dan akhirnya putus asa semakin mendekatinya. Inilah yang paling ditakuti bakal menimpa seseorang manusia itu. Ya, putus asa!
Berusahalah dan yakinlah Allah akan membantumu.
Wahai manusia, yakinlah dengan sepenuhnya bahawa Allah akan membantumu. Berusahalah dan bertawakallah kepadaNya dengan sepenuh jiwa. Pasti pertolongan Allah itu akan datang kepadamu. Tiada pergantungan yang sehebat-hebatnya melainkan meletakkan sepenuh kebergantungan itu kepada Allah semata-mata. Percayalah, makhluk tiada upaya walau sebesar zarah sekalipun untuk membantumu, melainkan Allah jualah yang berkuasa menyelesaikan masalah yang sedang dibebani olehmu itu.
Setiap yang diuji itu semuanya baik-baik belaka.
“Sungguh mengkagumkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik. Dan hal itu tidak akan diperoleh kecuali oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan, maka dia bersyukur. Maka hal itu merupakan kebaikan baginya. Dan apabila dia ditimpa kesusahan maka dia bersabar. Maka itu juga merupakan kebaikan baginya(Imam Muslim)
Apabila seseorang itu telah mencapai tahap kebergantungan dan keyakinan yang sebenar-benarnya kepada Allah, maka segala ujian yang menimpanya itu akan diterima dengan redha dan kesabaran. Sekiranya datang kesedihan dalam hatinya maka bersegeralah dia beristigfar memohon keampunan kepadaNya dan akhirnya hatinya kembali tenang menerima ujian yang sedang menimpanya. Pada mereka, setiap ujian itu semuanya baik-baik belaka.
Khabar gembira apabila diuji
RAsulullah SAW bersabda yang bermaksud :
“Tidaklah ada suatu musibah yang menimpa seorang muslim melainkan Allah akan menghapuskan dosa dengannya walaupun duri yang menusuk badannya.” (Imam al-Bukhari dan Muslim)
Allah berfirman yang bermaksud :
“Sesungguhnya tiap-tiap kesukaran disertai kemudahan.” (al-Insyirah : 6)

Rabu, 19 Februari 2014

Sejarah Surah Toha dan Saidina Umar Al-Khattab

Surah yang melembutkan hati Saidina Umar Al-Khattab kepada Islam



Dalam perjalanan, beliau Bertemu dengan Abdullah An-Nahham Al-‘Adawi, Seorang laki-laki dari Bani Zuhrah....(ada setengah riwayat mengatakan Saad bin Abi Waqqas)..... 

Lelaki itu berkata kepada Umar, " Mahu kemana wahai Umar ? " 

Umar menjawab, "Aku Ingin pergi membunuh Muhammad." 

Lelaki tadi berkata, " Bagaimana kamu akan selamat dari Bani Hasyim dan Bani Zuhrah, kalau kamu membunuh Muhammad ?" ..mendengar ucapannya itu, 

Maka Umar menjawab, " Tidaklah aku melihatmu lebih daripada seorang musuh yang telah meninggalkan agama nenek moyangnya." 

Sejarah Hidup Imam al-Shafi'i

Dalam pebelajaran kajian fiqah, perundangan Islam, sekolah-sekolah dan pusat pengajian yang berbeza telah dibangunkan dari masa ke masa. Pusat pengajian ini telah diasaskan oleh mereka yang terkenal dengan kehebatan ilmuan dalam sejarah islam yang terhebat dan berkembang biak dari pengganti-pengganti mereka di pusat pengajian terdahulu. Setiap satu daripada imam menambah satu dimensi yang unik dan baru untuk memahami perundangan dalam Islam.

Satu antara empat imam besar tersebut adalah Imam Muhammad al-Shafii, sumbangan besar beliau adalah mengkod dan organisasi satu konsep yang dikenali sebagai usul al-fiqh - prinsip-prinsip di sebalik kajian fiqh. Sepanjang kerjaya beliau yang cemerlang, dia belajar di bawah beberapa ulamak teragung di zamannya, dan berkembang pada idea-idea mereka, sementara masih memegang dekat dengan Al-Quran dan As-Sunnah sebagai sumber utama perundangan Islam. Hari ini, mazhab beliau , adalah yang kedua paling popular di dunia, selepas mazhab Imam Abu Hanifah.

Kehidupan awal
Muhammad ibn Idris al-Syafie dilahirkan pada tahun 767 ( tahun Imam Abu Hanifah meninggal dunia ) di Gaza, Palestin. Bapanya meninggal dunia ketika dia masih kecil maka dengan itu ibunya memutuskan untuk berpindah ke Makkah, di mana ramai ahli-ahli keluarganya (yang pada asalnya dari Yaman) telah kesana. Imam al-Syafie adalah dari keturunan bani Quraisy dan nasabnya dari keluarga Nabi Muhammad ﷺ.

Jumaat, 22 November 2013

ABU HASAN ALI IBN AL- Haitham ( Alhazen )

ABU HASAN ALI IBN AL- Haitham ( Alhazen ) ( 965-1040 Masihi)

Al- Haitham , yang dikenali di Barat sebagai Alhazen , dianggap sebagai bapa optik moden. Ibn al- Haitham dilahirkan pada 965 Masihi di Basrah (kini Iraq), dan mendapat pendidikan di Basrah dan Baghdad. Beliau merantau ke Mesir dan Sepanyol. Beliau menghabiskan sebahagian besar hidupnya di Sepanyol dengan mengendalikan penyelidikan mengenai optik , matematik , fizik, perubatan dan pembangunan kaedah saintifik.

Al- uji kaji yang dijalankan ialah penyebaran cahaya dan warna, pantulan dan ilusi optik . Beliau mengkaji pembiasan sinaran cahaya melalui medium telus (udara, air) dan dokumentasi undang-undang pembiasan. Beliau juga menjalankan eksperimen pertama pada penyebaran cahaya ke dalam warna. Semasa kajian mendalam mengenai segmen sfera ( gelas yang diisi air) beliau hampir membuat penemuan mengenai teori lensa pembesar yang dibangunkan di Itali tiga abad kemudiannya. Ia mengambil masa selama tiga abad sebelum undang-undang sinus telah dicadangkan oleh Snell dan Descartes.

Ahad, 27 Oktober 2013

Peristiwa Dahagi di Singapura (1915)

Assalamualaikum,

Saya ada mengisi siri-siri kuliah sejarah bulanan di beberapa buah mesjid di Selangor. Salah satu dari kuliah tersebut ialah 'Perihal sokongan ulama tanah air kepada Khilafah Uthmaniah'. Sebagai mukaddimah saya terangkan di mana kedudukan khalifah dalam sistem politik tertinggi umat Islam dan peranannya di dalam memayungi ummah. Saya jelaskan juga apakah bencana yang menimpa umat ini apabila khilafah terakhir, Khilafah Uthmaniyah luput pada tahun 1924. Di sentuh juga sepintas lalu mengenai usaha as-Syahid Imam Al-Banna dan program maratib-ul-amal untuk mengembalikan khilafah bermula dengan pembinaan syahsiah muslimah sehingga terbitnya ustiazatul alam (Islamic world order yang memayungi seluruh dunia).

Askar-askar India Muslim dan melayu dijatuhkan hukuman tembak (firing squad) dalam peristiwa Dahagi kerana menyokong Khilafah Uthmaniah dan pertahan Palestin.

Pengikut