Others weblink

Powered by  MyPagerank.Net

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Friday, 28 November 2008

In Memory of Al-Jazari, A Genius Mechanical Engineer

Al-Jazari(1136-1206) was an important Arab Muslim scholar. He was an inventor and mechanical engineer who gained fame and glory with his famous book of mechanics, Al-Jami `bayn al-`ilm wa 'l-`amal al-nafi `fi sina `at al-hiyal (A Compendium on the Theory and Useful Practice of the Mechanical Arts), the most significant treatise of the Islamic tradition of mechanical engineering and a ground breaking work in the history of technology.

Al-Jazari's greatest treatise has always aroused great interest from historians of technology and historians of art. Indeed, alongside his accomplishments as an inventor and engineer, al-Jazariwas also an accomplished artist. The surviving manuscripts of his book provide detailed instructions for all of his inventions and illustrate them using miniature paintings, a medieval style of Islamic art, to make it possible for a reader to reconstruct his inventions.

The historian Lynn White who writes: "Segmental gears first clearly appear in al-Jazari, in the West they emerge in Giovanni de Dondi's astronomical clock finished in 1364, and only with the great Sienese engineer Francesco di Giorgio (1501) did they enter the general vocabulary of European machine design

Some 800 years in the past, in 1206, a brilliant Muslim scholar died: Badi` al-Zaman Abu al-‘Izz ibn Isma`il ibn al-Razzaz al-Jazari. He was one of the most important inventors and mechanical engineers in the history of technology. His magnum opus book of mechanics, the famous Al-Jami` bayn al-`ilm wa 'l-`amal al-nafi` fi sina`at al-hiyal (A Compendium on the Theory and Useful Practice of the Mechanical Arts) was the most significant treatise of the Islamic tradition of mechanical engineering and a ground breaking work in the history of mechanics.

Al-Jazari's achievements in the history of mechanical engineering


Figure 2: Drawing of al-Jazari's "Elephant Clock" depicted by Fakhr ibn 'Abd al-Latif on a leaf. Source: The The Metropolitan Museum of Art in New Yourk. Online at: http://www.metmuseum.org/toah/ho/07/wae/ho_57.51.23.htm

Al-Jazari's book deals with a whole range of devices and machines, with a multiplicity of purposes. What they have in common is the considerable degree of engineering skill required for their manufacture, and the use of delicate mechanisms and sensitive control systems. Many of the ideas employed in the construction of ingenious devices were useful in the later development of mechanical technology.

The American pioneer historian of science George Sarton says about the special status of al-Jazari's book in the history of science and technology: "this treatise is the most elaborate of its kind and may be considered the climax of this line of Moslem achievement [6]." Donald R. Hill concludes also that "until modern times there is no other document, from any cultural area, that provides a comparable wealth of instructions for the design, manufacture and assembly of machines."

Al-Jazariinherited the knowledge of his predecessors, but he improved on their designs and added devices of his own invention. The merit of his book is that it was the only book to discuss such a large variety of devices and to present them with text, illustrations and dimensions so that a skilled craftsman is able to construct any device on the basis of al-Jazari's description. This is why several of his inventions were reproduced, from the monumental water clock created for the World of Islam Festival in 1976, until the huge "Elephant clock" that stands 8 meters high in the "India" court at the Ibn Battuta shopping mall in Dubai and the recreation by FSTC scholars in Manchester of 3D-model animations of some machines of al-Jazari, such as the reciprocating pump with a water wheel as the drive source. The recreated machines as well as their animated models proved to be real machines, working perfectly well, and far from being just toys described in al-Jazari's book, as some historians have assumed erroneously.

1- Source refer to http://muslimheritage.com/topics/default.cfm
2- http://muslimheritage.com/
3-http://www.history-science-technology.com/

Monday, 3 November 2008

Perang Salib

Perang keagamaan antara umat Kristin Eropa dan umat Islam Asia selama hampir dua abad (1096-1291) dikenal dengan nama Perang Salib. Perang itu terjadi sebagai reaksi umat Kristin terhadap umat Islam.

Sejak tahun 632, sejumlah kota penting dan tempat suci umat Kristin dikuasai oleh umat Islam. Akibatnya, umat Kristin merasa terganggu ketika hendak berziarah ke kota suci Yerusalem. Umat Kristin tentu saja ingin merebut kembali kota itu. Perang itu disebut Perang Salib karena pasukan Kristin menggunakan tanda salib sebagai simbol pemersatu dan untuk menunjukkan bahwa peperangan yang mereka lakukan adalah perang suci.

Faktor utama penyebab terjadinya Perang Salib adalah agama, politik dan sosial ekonomi. Faktor agama, sejak Dinasti Seljuk merebut Baitulmakdis dari tangan Dinasti Fatimiah pada tahun 1070, pihak Kristin merasa tidak bebas lagi menunaikan ibadah ke sana. Hal ini disebabkan karena para penguasa Seljuk menetapkan sejumlah peraturan yang dianggap mempersulit mereka yang hendak melaksanakan ibadah ke Baitulmakdis. Bahkan mereka yang pulang berjiarah sering mengelu karena mendapatkan perlakuan jelek oleh orang-orang Seljuk yang fanatik. Umat Kristin merasa perlakuan para penguasa Dinasti Seljuk sangat berbeda dengan para penguasa Islam lainnya yang pernah menguasai kawasan itu sebelumnya.

Faktor politik, dipicu oleh kekalahan Bizantium --sejak 330 disebut Konstantinopel (Istambul)-- di Manzikart (Malazkirt atau Malasyird, Armenia) pada tahun 1071 dan jatuhnya Asia Kecil ke bawah kekuasaan Seljuk terlah mendorong Kaisai Alexius I Comnenus (Kaisar Constantinopel) untuk meminta bantuan kepada Paus Urbanus dalam usahanya untuk mengembalikan kekuasaannya di daerah-daerah pendudukan Dinasti Seljuk.

Di lain pihak, kondisi kekuasaan Islam pada waktu itu sedang melemah, sehingga orang-orang Kristin Eropah berani untuk ikut mengambil bagian dalam Perang Salib. Ketika itu Dinasti Seljuk di Asia Kecil sedang mengalami perpecahan, Dinasti Fatimiah di Mesir dalam keadaan lumpuh, sementara kekuasaan Islam di Spanyol semakin goyah. Situasi semakin bertambah parah karena adanya pertentangan segitiga antara khalifah Fatimiah di Mesir, khalifah Abbasiyah di Baghdad dan amir Umayyah di Cordoba yang mengistiharkan dirinya sebagai penguasa Kristin di Eropah untuk merebut satu persatu daerah-daerah kekuasaan Islam, seperti Dinasti-dinasti kecil di Edessa dan Baitulmakdis.

Sementara faktor sosial ekonomi dikuasai oleh pedagang-pedagang besar yang berada di pantai timur Laut Tengah, terutama yang berada di kota Venezia, Genoa dan Pisa, untuk menguasai sejumlah kota-kota dagang di sepanjang pantai Timur dan selatan Laut Tengah untuk memperluas jaringan dagang mereka. Untuk itu mereka rela menanggung sebahagian dana perang Salib dengan maksud menjadikan kawasan itu sebagai pusat perdagangan mereka apabila pihak Kristin Eropah memperolehi kemenangan.

Sejarawan Philip K Hitti penulis buku The History of The Arabs membahagi Perang Salib ke dalam tiga periode.

1. Disebut periode penaklukkan daerah-daerah kekuasaan Islam. pasukan Salib yang dipimpin oleh Godfrey of Bouillon mengorganisir strategi perang dengan rapih. Mereke berhasil menduduki kota suci Palestina (Yerusalem) tanggal 7 Juni 1099. Pasukan Salib ini melakukan pembantaian besar-besaran selama lebih kurang satu minggu terhadap umat Islam tanpa membedakan laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa, serta tua dan muda. Kemenangan pasukan Salib dalam periode ini telah mengubah peta dunia Islam dan situasi di kawasan itu.
2. Disebut periode reksi umat Islam (1144-1192). Jatuhnya daerah kekuasaan Islam ke tangan kaum Salib membangkitkan kesadaran kaum Muslimin untuk menghimpun kekuatan guna menghadapi mereka. Di bawah komando Imaduddin Zangi, gubernur Mosul, kaum Muslimin bergerak maju membendung serangan kaum Salib. Bahkan mereka berhasil merebut kembali Allepo dan Edessa. Keberhasilan kaum muslimin meraih berbagai kemenangan, terutama setelah muculnya Salahuddin Yusuf al-Ayyubi (Saladin) di Mesir yang berhasil membebaskan Baitulmakdis (Jerusalem) pada 2 Oktober 1187, telah membangkitkan kembali semangat kaum Salib untuk mengirim ekspedisi militer yang lebih kuat.

3. Berlangsung pada tahun 1193 hingga 1291 ini lebih dikenal dengan periode kehancuran di dalam pasukan Salib. Hal ini disebabkan karena periode ini lebih disemanganti oleh ambisi politik untuk memperoleh kekuasaan dan sesuatu yang bersifat material dari pada motivasi agama.

Artikel sila rujuk di http://www.mesra.net/forum/index.php?

UMAT ISLAM MUSLIM ATAS KERUNTUHAN KHILAFAH UTSMANIYAH

Pada 3 Mac 1924, Mustafa Kamal la’natullahu ’alaih memutuskan untuk membubarkan Khilafah yang disebutnya sebagai “bisul sejak abad pertengahan”. Pada pagi 3 Mac 1924, diumumkan bahawa Majlis Nasional telah bersetuju dengan penghapusan Khilafah dan pemisahan agama dari urusan-urusan negara. Pada malamnya, Khalifah diusir secara paksa oleh polis dan askar. Secara rasmi, runtuhlah Khilafah Utsmaniyah pada 3 Mac 1924.

Pembubaran kepemimpinan umat Islam sedunia tersebut menggoncang seluruh dunia, termasuk alam Melayu. Sebagai tindakbalas terhadap keruntuhan Khilafah, sebuah Jawatankuasa Khilafah didirikan di Surabaya pada 4 Oktober 1924 dengan diketuai Wondosudirdjo (kemudian dikenali dengan nama Wondoamiseno) dari Sarikat Islam dan wakil ketua Kiai Haji A. Wahab Hasbullah. Tujuannya adalah untuk membahas jemputan kongres Khilafah di Kaherah.

Pertemuan ini dilanjuti dengan penyelenggaraan kongres Al-Islam Hindia ke3 di Surabaya pada 24-27 Disember 1924. Kongres ini disertai oleh 68 pertubuhan Islam yang mewakili pimpinan pusat (hoofd bestuur) mahu pun cabang (afdeling), serta mendapat dokongan bertulis dari 10 cawangan pertubuhan lain. Kongres ini dihadiri oleh ramai ulama dari seluruh penjuru Indonesia. Keputusan penting Kongres ini adalah melibatkan diri dalam pergerakan khilafah dan mengirimkan utusan yang mesti dianggap sebagai wakil seluruh umat Islam di Indonesia ke kongres dunia Islam. Kongres ini memutuskan untuk mengirim wakil ke Kaherah yang terdiri dari Surjopranoto (Sarikat Islam), Haji Fachruddin (Muhammadiyah), dan Kiai Haji A. Wahab dari kalangan ulama tradisi.

Oleh kerana ada perbezaan pendapat di kalangan Muhammadiyah, K.H.A. Wahab dan 3 penyokongnya, mereka mengadakan mesyuarat dengan kalangan ulama kaum tua dari Surabaya, Semarang, Pasuruan, Lasem, dan Pati. Mereka bersepakat mendirikan Jawatankuasa Rundingan Hijaz. Jawatankuasa ini ditubuhkan dengan dua maksud, iaitu pertama untuk mengimbangi Jawatankuasa Khilafat yang secara beransur-ansur jatuh ke tangan golongan pembaharu, dan kedua, untuk menyahut seruan Ibnu Sa’ud, pemerintah baru di tanah Arab agar kebiasaan beragama secara tradisi dapat diteruskan.

Jawatankuasa inilah yang kemudian diubah namanya menjadi Nahdatul Ulama (NU) di dalam suatu mesyuarat di Surabaya pada Januari 1926. Mesyuarat ini tetap meletakkan masalah Hijaz sebagai persoalan utama. Sekalipun terdapat perselisihan pendapat di kalangan Muhammadiyah, Sarikat Islam dan NU, tetapi mereka sama-sama memberi perhatian besar terhadap keruntuhan khilafah Islamiyah dan memandangnya sebagai persoalan utama kaum Muslim.

Sikap ini lahir dari keyakinan bahawa Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim. Umat Islam Indonesia ketika itu memandang Sultan Turki sebagai Khalifah. Di antara tokoh Indonesia dari Sarikat Islam, HOS Cokroaminoto, menyatakan bahawa khalifah bukan semata-mata untuk umat Islam di jazirah Arab, tetapi juga bagi umat Islam Indonesia. Beliau juga menegaskan bahawa khalifah merupakan hak bersama sesama muslim dan bukan penguasaan bangsa tertentu. Lebih tegas lagi, Cokroaminoto juga menyatakan selain dua kota suci Mekah-Madinah, khalifah adalah milik umat Islam sedunia. Ia menyarankan untuk mengirim utusan ke Kongres. Tujuannya adalah untuk “mempertanyakan mereka terhadap umat Islam sedunia”, dan “melakukan segala usaha yang dipertimbangkan berguna bagi umat Islam di negeri kita”. Di samping itu, mencari keterangan mengenai penerusan pemilihan khalifah. Bahkan, beliau mengkiaskan umat Islam laksana suatu tubuh. Kerananya, bila umat Islam tidak memiliki khalifah maka “seolah-olah badan tidak berkepala”.


PENUTUP

Berdasarkan beberapa catatan dan fakta sejarah dapat disimpulkan bahawa kesultanan Islam di alam Melayu memiliki hubungan yang erat dengan Khilafah Uthmaniyah. Bahkan bukti-bukti tersebut menggambarkan kesultanan Islam di Indonesia sebagai sebahagian dari wilayah Khilafah Islamiyah.

Ketika kekuatan Khilafah Uthmaniyah mulai lemah, penjajah kafir Barat (Inggeris) melalui ejennya, Mustafa Kamal, berjaya meruntuhkannya. Akibatnya, institusi penyatu umat Islam sedunia itu pun lenyap dan wilayah negeri-negeri Muslim pun berpecah belah di bawah kekuasaan penjajah.

Di alam Melayu sendiri, pasca penjajahan secara fizikal (ketenteraan), beberapa tokoh yang ingin mendirikan negara berdasarkan sistem politik Islam, juga mengalami kegagalan akibat adanya ‘pengkhianatan’. Akibatnya, alam Melayu berpecah belah menjadi negara-negara yang ‘merdeka’ atas dasar sekularisme dan nasionalisme. Hal ini menjadikan perpecahan negeri-negeri Muslim terus berlanjutan dan menjadikan kaum Muslim tetap dalam keadaan lemah.

Merujuk pada kenyataan sejarah yang ada, jelas bahawa ada usaha menyatukan kaum Muslim di berbagai negeri Muslim di alam Melayu atas dasar Islam. Bagi umat Islam di alam Melayu, perjuangan untuk melanjutkan kehidupan Islam dan menyatukan wilayah Islam dalam Khilafah bukanlah hanya semata-mata wujud ketaatan kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kegiatan tersebut sesungguhnya juga merupakan usaha untuk meneruskan sejarah, di samping usaha untuk melanjutkan perjuangan para Sultan dan Ulama’ soleh terdahulu yang telah menyatukan Nusantara dengan Khilafah Islamiyah. Sebaliknya, penentangan terhadap usaha ini merupakan pengingkaran terhadap sejarah alam Melayu, di samping pengingkaran terhadap perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala.

ISLAM DI ALAM MELAYU TERHADAP PENYATUAN UMAT DUNIA

Semasa Khilafah Islamiyah dalam kesusahan, di mana beberapa wilayahnya mula diduduki oleh penjajah, muncul usaha untuk mengukuhkan kesatuan Islam yang diterajui oleh Sultan Abdul Hamid II. Beliau mengatakan, “Kita wajib menguatkan ikatan kita dengan kaum Muslim di belahan bumi yang lain. Kita wajib saling mendekati dalam ikatan yang amat kuat. Sebab, tidak ada harapan lagi di masa depan kecuali dengan kesatuan ini.” Inilah gagasan yang dikenali sebagai Pan-Islamisme. Usaha menguatkan kesatuan Islam sampai ke Nusantara.

Snouck Hourgronje, penasihat Belanda, sentiasa memberikan maklumat kepada pemerintah Hindia Belanda bahawa ada usaha gerakan Pan-Islamisme untuk memujuk raja-raja dan pembesar-pembesar Hindia Belanda (kaum Muslim) untuk datang ke Istana Sultan Abdul Hamid II di Istanbul. Tujuan jangka pendek yang ingin dicapai di Batavia, mengikut ulasan Snouck, adalah untuk mendapatkan persamaan kedudukan orang-orang Arab dan kemudian untuk semua orang Islam sederajat dengan orang-orang Eropah.

Jika tujuan ini sudah tercapai maka orang-orang Islam tidak lagi sukar mendapat kedudukan yang lebih tinggi dari orang Eropah, bahkan boleh mengalahkan mereka sama sekali. Pemerintah Hindia Belanda amat risau bila kaum Muslim tahu bahawa Sultan Abdul Hamid II menyediakan biasiswa untuk pemuda Islam. Atas pembiayaan Sultan Abdul Hamid II, mereka masuk ke sekolah-sekolah yang tinggi untuk menerima pendidikan ilmiah dan mendapat kesedaran yang mendalam tentang kelebihan setiap muslim atas orang-orang kafir. Kesedaran dan kehinaan yang mendalam yang tidak harus mereka terima dan membiarkan diri mereka diperintah oleh orang kafir. Jika mereka telah menyelesaikan pelajaran dan telah menamatkan ibadah haji ke Mekah, mereka diharapkan dapat berperanan mengembangkan pemikiran Islam di daerah mereka.

Usaha pengukuhan kesatuan ini terus dilakukan. Pada tahun 1904 telah ada 7 hingga 8 konsul (utusan) telah ditempatkan Khilafah Utsmaniyah di Hindia Belanda. Diantara kegiatan para duta ini adalah mengedar mushaf al-Quran atas nama sultan, dan karya-karya teologi Islam dalam bahasa Melayu yang dicetak di Istanbul. Di antara kitab tersebut adalah tafsir al-Quran yang di halaman judulnya menyebut “Sultan Turki Raja semua orang Islam”.

Istilah Raja di sini sebenarnya adalah kata al-Malik yang bererti pemimpin, dan semua orang Islam mengantikan istilah Muslimin. Jadi, sebutan tersebut menunjukkan pengisytiharan Khalifah bahawa beliau adalah pemerintah umat Islam sedunia. Hal ini menunjukkan bahawa khilafah Uthmaniyah terus berusaha untuk menyatukan kesultanan Melayu ke dalamnya, termasuk melalui penyebaran al-Quran.

Sebagai tindakbalas terhadap gerakan penyatuan Islam oleh Khilafah Uthmaniyah ini, terdapat beberapa pertubuhan pergerakan Islam di Alam Melayu yang mendokong gerakan tersebut di Hindia Belanda. Abu Bakar Atjeh menyebutkan di antara pertubuhan itu adalah Jam’iyat Khoir yang didirikan pada 17 Julai 1905 oleh keturunan Arab.

Karangan-karangan pergerakan Islam ini di Nusantara dimuatkan dalam akhbar dan majalah di Istanbul, di antaranya majalah Al-Manar. Khalifah Abdul Hamid II di Istanbul pernah mengirim utusannya ke Indonesia, Ahmed Amin Bey, atas permintaan dari kumpulan tersebut untuk mengkaji keadaan umat Islam di Indonesia. Akibatnya, pemerintah penjajah Hindia Belanda melarang orang-orang Arab mengunjungi beberapa daerah tertentu.

Pertubuhan pergerakan Islam lain yang muncul sebagai sambutan positif terhadap penyatuan ini adalah Sarikat Islam. Bendera Khilafah Uthmaniyah dikibarkan pada Kongres Nasional Sarikat Islam di Bandung pada tahun 1916, sebagai simbol perpaduan sesama muslim dan penentangan terhadap penjajahan. Ketika itu, salah satu usaha yang dilakukan Khilafah Uthmaniyah adalah menyebarkan seruan jihad dengan atasnama khalifah kepada segenap umat Islam, termasuk Indonesia, yang dikenal sebagai Jawa. Di antara seruan tersebut adalah:

“Wahai saudara seiman, perhatikanlah berapa negara lain menjajah dunia Islam. India yang luas dan berpenduduk 100 juta muslim dijajah oleh sekelompok kecil musuh dari orang-orang kafir Inggeris. 40 juta muslim Jawa dijajah oleh Belanda. Maghribi, Algeria, Tunisa, Mesir dan Sudan menderita dibawah cengkaman musuh Tuhan dan RasulNya. Juga Kuzestan, berada di bawah tekanan penjajah musuh iman. Parsi dipecah-belah. Bahkan takhta khilafah pun, oleh musuh-musuh Tuhan selalu ditentang dengan segala macam cara”.

Hakikat ini memberikan gambaran bagaimana Khilafah Uthmaniyah memberi dokongan dan bantuan kepada kaum Muslim Indonesia serta memandangnya sebagai satu tubuh, bahkan menyeru untuk membebaskan diri dari penjajah musuh iman. Dalam hal ini kaum Muslim memberikan sambutan positif terhadap usaha pengukuhan kesatuan umat Islam sedunia tersebut.

Hubungan Politik Aceh dan Kerajaan Uthmaniyah


Portugis meluaskan pengaruhnya bukan hanya ke Timur Tengah tetapi juga ke Samudera India. Raja Portugis Emanuel I secara terang-terangan menyampaikan tujuan utama ekspedisi tersebut dengan mengatakan, “Sesungguhnya tujuan dari pencarian jalan laut ke India adalah untuk menyebarkan agama Kristian, dan merampas kekayaan orang-orang Timur”. Khilafah Uthmaniyah tidak berdiam diri. Pada tahun 925H/1519 M, Portugis di Melaka digemparkan oleh berita tentang penghantaran armada ‘Utsmani’ untuk membebaskan Muslim Melaka dari penjajahan kafir. Khabar ini tentu saja sangat menggembirakan umat Islam setempat.


Ketika Sultan Ala Al-Din Riayat Syah Al-Qahhar naik takhta di Aceh pada tahun 943 H/1537 M, ia menyedari keperluan Aceh untuk meminta bantuan ketenteraan dari Turki. Bukan hanya untuk mengusir Portugis di Melaka, tetapi juga untuk menakluk wilayah lain, khususnya daerah pedalaman Sumatera, seperti daerah Batak. Al-Kahar menggunakan pasukan Turki, Arab dan Habsyah. Pasukan Khilafah 160 orang dan 200 orang askar dari Malabar, membentuk kelompok elit angkatan bersenjata Aceh. Al-Kahhar selanjutnya mengerahkan untuk menakluk wilayah Batak di pedalaman Sumatera pada 946 H/1539 M. Mendez Pinto, yang mengamati perang antara pasukan Aceh dengan Batak, melaporkan kembalinya armada Aceh di bawah komando seorang Turki bernama Hamid Khan, anak saudara Pasya Utsmani di Kaherah.

Seorang sejarawan Universiti Kebangsaan Malaysia, Lukman Taib, mengakui adanya bantuan Khilafah Uthmaniyah dalam penaklukan terhadap wilayah sekitar Aceh. Menurut Taib, perkara ini merupakan ungkapan perpaduan umat Islam yang memungkinkan Khilafah Uthmaniyah melakukan serangan langsung terhadap wilayah sekitar Aceh. Bahkan, Khilafah mendirikan akademi tentera di Aceh bernama ‘Askeri Beytul Mukaddes’ yang diubah menjadi ‘Askar Baitul Maqdis’ yang lebih sesuai dengan loghat Aceh. Maktab ketenteraan ini merupakan pusat yang melahirkan pahlawan dalam sejarah Aceh dan Indonesia. Demikianlah, hubungan Aceh dengan Khilafah yang sangat akrab. Aceh merupakan sebahagian dari wilayah Khilafah. Persoalan umat Islam Aceh dianggap Khilafah sebagai persoalan dalam negeri yang mesti segera diselesaikan.

Nur Al-Din Al-Raniri dalam Bustan Al-Salathin meriwayatkan, Sultan Ala Al-Din Riayat Syah Al-Qahhar mengirim utusan ke Istanbul untuk mengadap Khalifah. Utusan ini bernama Huseyn Effendi yang fasih berbahasa Arab. Ia datang ke Turki setelah menunaikan ibadah haji. Pada Jun 1562 M, utusan Aceh itu tiba di Istanbul untuk meminta bantuan ketenteraan Uthmaniyah untuk menghadapi Portugis. Duta itu dapat mengelak dari serangan Portugis dan sampai di Istanbul, ia mendapat bantuan Khilafah, dan menolong Aceh membangkitkan askarnya sehingga dapat menakluk Aru dan Johor pada 973 H/1564 M.


Hubungan Aceh dengan Khilafah terus berlanjutan, terutama untuk menjaga keamanan Aceh dari serangan Portugis. Menurut seorang penulis Aceh, pengganti Al-Qahhar Ke2 iaitu Sultan Mansyur Syah (985-998 H/1577-1588 M) memperbaharui hubungan politik dan ketenteraan dengan Khilafah. Hal ini disahkan oleh sumber sejarah Portugis. Uskup Jorge de Lemos, setiausaha Raja Muda Portugis di Goa, pada tahun 993 H/1585 M, melaporkan kepada Lisbon bahawa Aceh telah kembali berhubungan dengan Khalifah Utsmani untuk mendapatkan bantuan ketenteraan untuk melancarkan peperangan baru terhadap Portugis. Pemerintah Aceh berikutnya, Sultan Ala Al-Din Riayat Syah (988-1013 H/1588-1604 M) juga dilaporkan telah melanjutkan lagi hubungan politik dengan Turki. Bahkan, Khilafah Uthmaniyah dikatakan telah mengirim sebuah bintang kehormat kepada Sultan Aceh, dan mengizinkan kapal-kapal Aceh untuk mengibarkan bendera Khilafah.

Hubungan akrab antara Acheh dan Khilafah Othmaniah telah berperanan mempertahankan kemerdekaannya selama lebih 300 tahun. Kapal-kapal atau perahu yang digunakan Aceh dalam setiap peperangan terdiri dari kapal kecil yang laju dan kapal-kapal besar. Kapal-kapal besar atau tongkang yang mengarungi lautan hingga Jeddah berasal dari Turki, India, dan Gujerat. Dua daerah ini merupakan wilayah Khilafah Uthmaniyah. Menurut Court, kapal-kapal ini cukup besar, berukuran 500 sampai 2000 tan. Kapal-kapal besar dari Turki dilengkapi meriam dan senjata lain digunakan Aceh untuk menyerang penjajah Eropah yang mengganggu wilayah-wilayah muslim di Nusantara. Aceh tampil sebagai kekuatan besar yang amat ditakuti Portugis kerana diperkuat oleh pakar senjata dari Turki sebagai bantuan Khilafah kepada Aceh.
Menurut sumber Aceh, Sultan Iskandar Muda (1016-1046 H/1607-1636 M) mengirimkan armada kecil yang terdiri dari tiga buah kapal. Ia tiba di Istanbul setelah belayar dua setengah tahun melalui Tanjung Harapan. Ketika misi ini mereka kembali ke Aceh dengan bantuan senjata, pakar tentera, dan sepucuk surat tentang persahabatan Uthmani dan hubungannya dengan Aceh. 12 pakar tentera itu dipanggil sebagai pahlawan di Aceh. Mereka juga dikatakan begitu ahli sehingga mampu membantu Sultan Iskandar Muda, tidak hanya dalam membina benteng yang kukuh di Banda Aceh, tetapi juga untuk membina istana kesultanan.

Kesan kejayaan Khilafah Utsmaniyah menghalang Portugis di Lautan Hindi tersebut amat besar. Diantaranya mampu mempertahankan tempat-tempat suci dan jalan-jalan untuk menunaikan haji; kesinambungan pertukaran barang-barang India dengan pedagang Eropah di pasar Aleppo (Syria), Kaherah, dan Istanbul; serta kesinambungan laluan perdagangan antara India dan Indonesia dengan Timur Jauh melalui Teluk Arab dan Laut Merah.

Hubungan beberapa kesultanan di Nusantara dengan Khilafah Uthmaniyah yang berpusat di Turki nampak jelas. Misalnya, Islam masuk Buton (Sulawesi Selatan) abad 16M. Silsilah Raja-Raja Buton menunjukkan bahawa setelah masuk Islam, Lakilaponto dilantik menjadi ‘sultan’ dengan gelar Qaim ad-Din (penegak agama) yang dilantik oleh Syekh Abd al-Wahid dari Mekah. Sejak itu, dia dikenali sebagai Sultan Marhum dan semenjak itu juga nama sultan disebut dalam khutbah Jumaat. Menurut sumber setempat, penggunaan gelaran ‘sultan’ ini berlaku setelah dipersetujui Khilafah Uthmaniyah (ada juga yang mengatakan dari penguasa Mekah). Syeikh Wahid mengirim khabar kepada Khalifah di Turki. Realiti ini menunjukkan Mekah berada dalam kepemimpinan Khilafah, dan Buton memiliki hubungan ‘struktur’ secara tidak kuat dengan Khilafah Turki Utsmani melalui perantaraan Syekh Wahid dari Mekah.

Sementara itu, di wilayah Sumatera Barat, Pemerintah Alam Minangkabau yang memanggil dirinya sebagai “Aour Allum Maharaja Diraja” dipercayai adalah adik lelaki sultan Ruhum (Rum). Orang Minangkabau percaya bahawa pemerintah pertama mereka adalah keturunan Khalifah Rum (Utsmani) yang ditugaskan untuk menjadi Syarif di wilayah tersebut. Ini memberikan maklumat bahawa kesultanan tersebut memiliki hubungan dengan Khilafah Uthmaniyah.

Di samping adanya hubungan langsung dengan Khilafah Uthmaniyah, ada beberapa kesultanan yang berhubungan secara tidak langsung, misalnya kesultanan Ternate. Pada tahun 1570an, ketika perang Soya-soya melawan Portugis, Sultan Ternate, Baabullah, dibantu oleh para sangaji dari Nusa Tenggara yang terkenal dengan armada perahu dan Demak dengan askar Jawa. Begitu juga Aceh dengan armada laut yang perkasa dan kekuatan 30,000 buah kapal perang telah menyekat pelabuhan Sumatera dan menyekat pengiriman bahan makanan dan peluru Portugis melalui India dan Selat Melaka. Musuh Ternate adalah musuh Demak.

Berdasarkan beberapa hakikat ini jelas bahawa kesultanan Islam di Nusantara memiliki hubungan dengan Khilafah Utsmaniyah. Bentuk hubungan tersebut berbentuk perdagangan, ketenteraan, politik, dakwah, dan kekuasaan.

Kerajaan Uthmaniyah,Aceh dan Portugis

PENJAGA PERJALANAN HAJI NUSANTARA

Kedudukan Khilafah Uthmaniyah sebagai khilafah Islam, terutama setelah ‘futuhat’(pembukaan) ke atas Istanbul (Konstantinopel), ibunegeri Rom Timur, pada 857 H/1453 M, telah menyebabkan nama Turki melekat di hati umat Islam Nusantara. Nama yang terkenal bagi Turki di Nusantara ialah “Sultan Rum.” Istilah “Rum” tersebar sebagai sebutan kepada Kesultanan Turki Utsmani. Mulai ketika itu, kekuatan politik dan budaya Rum (Turki Utsmani) tersebar ke berbagai wilayah Dunia Muslim, termasuk ke alam Melayu.

Kekuatan politik dan ketenteraan Khilafah Utsmaniyah mulai terasa di kawasan lautan India pada awal abad ke-16. Sebagai khalifah kaum Muslim, Turki Utsmani memiliki kedudukan sebagai ‘khadimul haramayn’ (penjaga dua tanah haram, iaitu Mekah dan Madinah). Pada kedudukan ini, para Sultan Utsmani mengambil langkah-langkah khusus untuk menjamin keamanan bagi perjalanan haji. Seluruh laluan haji di wilayah kekuasaan Utsmani ditempatkan di bawah kawalannya. Rombongan haji dapat menuju Mekah tanpa halangan atau rasa takut menghadapi gangguan Portugis. Pada 954 H/1538 M, Sultan Sulayman I (berkuasa 928 H/1520-1566 M) mengirimkan armada yang kuat di bawah Gabenor Mesir, Khadim Sulayman Pasya, untuk membebaskan semua pelabuhan yang dikuasai Portugis untuk mengamankan perjalanan haji ke Jeddah.

Khilafah Uthmaniyah juga mengamankan laluan jamaah haji dari wilayah sebelah Barat Sumatera dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudera Hindia. Kehadiran angkatan laut Utsmani di Lautan Hindia pada 904 H/1498 M tidak hanya mengamankan perjalanan haji bagi umat Islam Nusantara, tetapi juga mengakibatkan semakin besarnya penglibatan Turki dalam perdagangan di kawasan ini. Ini memberi sumbangan penting bagi pertumbuhan kegiatan ekonomi sebagai kesan sampingan perjalanan ibadah haji. Pada saat yang sama Portugis juga meningkatkan kehadiran armadanya di Lautan India, tapi angkatan laut Utsmani mampu menegakkan kekuatannya di kawasan Teluk Parsi, Laut Merah, dan Lautan India sepanjang abad ke-16.

Berkaitan dengan mengamankan laluan haji, Selman Reis (936H/1528M), laksamana Khilafah Uthmaniyah di Laut Merah, terus memantau pergerakan Portugis di Lautan Hindia, dan melaporkannya ke pusat pemerintahan di Istanbul. Salah satu bunyi laporan yang dikutip Obazan ialah seperti berikut:

“(Portugis) juga menguasai pelabuhan (Pasai) di pulau besar yang disebut Syamatirah (Sumatera)… Dikatakan, mereka mempunyai 200 orang kafir di sana (Pasai). Dengan 200 orang kafir, mereka juga menguasai pelabuhan Melaka yang berhadapan dengan Sumatera…. Oleh itu, ketika kapal-kapal kita sudah siap dan, insyaAllah, bergerak melawan mereka, maka kehancuran menyeluruh mereka tidak dapat dielakkan lagi, kerana satu benteng tidak boleh menyokong yang lain, dan mereka tidak dapat membentuk penentangan yang bersepadu.”

Laporan ini memang cukup beralasan, kerana pada tahun 941 H/1534 M, sebuah skuadron Portugis yang diketuai oleh Diego da Silveira menghadang beberapa kapal dari Gujarat dan Aceh melalui Selat Bab el-Mandeb di Muara Laut Merah.

PENGAKUAN ALAM MELAYU TERHADAP KHILAFAH ISLAMIYAH

Pengaruh Khalifah terhadap kehidupan politik alam Melayu sudah terasa sejak masa-masa awal berdirinya Khilafah (Daulah Islamiyah). Kejayaan umat Islam mengalahkan Kerajaan Parsi (Iran) dan menduduki sebahagian besar wilayah Rom Timur, seperti Mesir, Syria, dan Palestin, di bawah kepemimpinan Umar bin al-Khattab telah menempatkan Daulah Islamiyah sebagai kuasa besar dunia sejak abad ke-7 M. Ketika Khilafah diperintah Bani Umayyah (660-749 M), pemerintah di Nusantara -yang masih beragama Hindu sekalipun – mengakui kebesaran Khilafah.

Pengakuan terhadap kebesaran khalifah dibuktikan dengan adanya 2 pucuk surat yang dikirim oleh Maharaja Srivijaya kepada Khalifah di zaman Bani Umayyah. Surat pertama dikirim kepada Muawiyyah, dan surat kedua dikirim kepada Umar bin Abdul Aziz. Surat pertama ditemui dalam sebuah diwan (arkib) Bani Umayyah oleh Abdul Malik bin Umayr yang disampaikan melalui Abu Ya’yub Ats-Tsaqofi, yang kemudian disampaikan melalui Al-Haytsam bin Adi. Al-Jahizh yang mendengar surat itu dari Al-Haytsam menceritakan pendahuluan surat itu sebagai berikut:

“Dari Raja Al-Hind yang kandang binatangnya berisikan seribu gajah, (dan) yang istananya dibuat dari emas dan perak, yang dilayani putri raja-raja, dan yang memiliki dua sungai besar yang mengairi pohon gaharu, kepada Muawiyah………”

Surat kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (246-329 H/860-940 M) dalam karyanya Al-Iqd Al-Farid. Petikan surat tersebut adalah seperti berikut:

“Dari Raja di Raja…; yang adalah keturunan seribu raja … kepada Raja Arab (Umar bin Abdul Aziz) yang tidak menyekutukan tuhan-tuhan lain dengan Tuhan. Saya telah mengirimkan kepada Anda hadiah, yang sebenarnya merupakan hadiah yang tak begitu banyak, tetapi sekadar tanda persahabatan; dan saya ingin Anda mengirimkan kepada saya seseorang yang dapat mengajarkan Islam kepada saya, dan menjelaskan kepada saya hukum-hukumnya.”

Selain itu, Farooqi menemui sebuah arkib Utsmani yang mengandungi sebuah petisi dari Sultan Ala Al-Din Riayat Syah kepada Sultan Sulayman Al-Qanuni yang dibawa oleh Huseyn Effendi. Dalam surat ini, Aceh mengakui pemimpin Utsmani sebagai Khalifah Islam. Selain itu, surat ini juga mengandungi laporan tentang kegiatan askar Portugis yang menimbulkan masalah besar terhadap pedagang muslim dan jamaah haji dalam perjalanan ke Mekah. Oleh itu, bantuan Utsmani amat diperlukan untuk menyelamatkan kaum Muslim yang terus di serang oleh Farangi (Portugis) kafir.
Sulayman Al-Qanuni wafat pada tahun 974 H/1566 M tetapi permintaan Aceh mendapat sokongan Sultan Selim II (974-982 H/1566-1574 M), dengan mengeluarkan perintah kesultanan untuk menghantar sepasukan besar tentera ke Aceh.

Sekitar September 975 H/1567 M, Laksamana Turki di Suez, Kurtoglu Hizir Reis, diperintahkan berlayar menuju Aceh dengan sejumlah pakar senjata, tentera dan meriam. Pasukan ini diperintahkan berada di Aceh selama mana yang diperlukan oleh Sultan. Namun dalam perjalanan, hanya sebahagian armada besar ini yang sampai ke Aceh kerana dialihkan untuk memadamkan pemberontakan di Yaman yang berakhir tahun 979 H/1571 M. Menurut catatan sejarah, pasukan Turki yang tiba di Aceh pada tahun 1566-1577 M sebanyak 500 orang, termasuk pakar senjata, penembak, dan pakar teknikal. Dengan bantuan ini, Aceh menyerang Portugis di Melaka pada tahun 1568 M.

Kehadiran armada tentera Kurtoglu Hizir Reis disambut dengan sukacita oleh umat Islam Aceh. Mereka disambut dengan upacara besar. Kurtoglu Hizir Reis kemudian digelar sebagai gabenor (wali) Aceh yang merupakan utusan rasmi khalifah yang ditempatkan di daerah tersebut. Ini menunjukkan bahawa hubungan Nusantara dengan Khilafah Utsmaniyah bukanlah hanya hubungan persaudaraan melainkan hubungan politik kenegaraan. Adanya wali Turki di Aceh lebih mengisyaratkan bahawa Aceh merupakan sebahagian dari Khilafah Islamiyah.

Banyak institusi politik melayu di Nusantara mendapatkan gelaran sultan dari pemerintah tertentu di Timur Tengah. Pada tahun 1048H/1638 M, pemimpin Banten, Abd al-Qodir (berkuasa 1037-1063H/1626-1651) dianugerahkan gelaran sultan oleh Syarif Mekah sebagai hasil dari misi khusus yang dikirim olehnya untuk tujuan itu ke Tanah Suci. Sementara itu, kesultanan Aceh terkenal mempunyai hubungan erat dengan pemerintah Turki Ustmani dan Haramain. Begitu juga Palembang (Sumatera) dan Makasar yang turut menjalin hubungan khusus dengan penguasa Mekah. Pada ketika itu, para penguasa Mekah merupakan sebahagian dari Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki.

Dari penggunaan istilah, kesultanan Islam di Nusantara sering mengaitkan dirinya dan tidak terpisah dari kekhalifahan. Beberapa kitab Jawi klasik mencatatkan perkara ini. Hikayat Raja-raja Pasai (hal. 58, 61-62, 64), misalnya, memanggil nama rasmi kesultanan Samudra Pasai sebagai “Samudera Dar al-Islam”. Istilah Dar al-Islam juga digunakan di dalam kitab Undang-undang Pahang untuk memanggil kesultanan Pahang. Nur al-Din al-Raniri, dalam Bustan al-Salatin (misalnya, pada hlm. 31, 32, 47), menyebut kesultanan Aceh sebagai Dar al-Salam. Istilah ini juga digunakan di Pattani ketika pemimpin setempat, Paya Tu Naqpa, masuk Islam dan mengambil nama Sultan Ismail Shah Zill Allah fi-Alam yang bertakhta di negeri Pattani Dar al-Salam (Hikayat Patani, 1970:75).

Dalam ilmu politik Islam klasik, dunia ini terbahagi dua, yaitu Dar al-Islam dan Dar al-Harb. Dar al-Islam merupakan daerah yang diterapkan hukum Islam dan keamanannya ada pada tangan kaum Muslim. Sedangkan Dar al-Harb adalah lawan dari kata Dar al-Islam. Penggunaan istilah “Dar al-Islam” atau “Dar al-Salam” menunjukkan bahawa para pemerintah Melayu menerima konsep geopolitik Islam tentang pembahagian dua wilayah dunia itu. Konsep geopolitik ini semakin jelas ketika bangsa-bangsa Eropah —dimulai oleh “bangsa Peringgi” (Portugis) yang kemudian disusul bangsa-bangsa Eropah lainnya, khususnya Belanda dan Inggeris— mulai bermaharajalela di kawasan Lautan India dan Selat Melaka (Sulalat al-Salatin, 1979:244-246). Mereka melakukan penjajahan fizikal dan menyebarkan agama Kristian.

Khilafah Turki Uthmaniyah, seperti disebutkan oleh orientalis, Hurgronje (1994, halaman 1631), bersifat pro-aktif dalam memberikan perhatian kepada penderitaan kaum Muslim di Indonesia dengan cara membuka perwakilan pemerintahannya (konsulat) di Batavia pada akhir abad ke-19. Para kedutaan Turki berjanji kepada umat Islam yang ada di Batavia untuk memperjuangkan pembebasan hak-hak orang-orang Arab sederajat dengan orang-orang Eropah. Selain itu, Turki juga akan berusaha supaya seluruh kaum Muslim di Hindia Belanda bebas dari penindasan Belanda.

Lebih dari semua itu, Aceh banyak didatangi para ulama dari berbagai belahan dunia Islam lainnya. Syarif Mekah mengirim utusannya ke Aceh seorang ulama bernama Syekh Abdullah Kan’an sebagai guru dan muballigh. Sekitar tahun 1582, datang 2 orang ulama besar dari negeri Arab, yakni Syekh Abdul Khayr dan Syekh Muhammad Yamani. Di samping itu, di Aceh sendiri lahir sejumlah ulama besar, seperti Syamsuddin Al-Sumatrani dan Abdul Rauf al-Singkeli.

Abdul Rauf Singkel mendapat tawaran dari Sultan Aceh, Safiyat al-Din Shah menjadi Kadi dengan gelaran Qadi al-Malik al-Adil yang kosong kerana Nur al-Din Al-Raniri kembali ke Ranir (Gujarat). Setelah melakukan berbagai pertimbangan, Abdul Rauf menerima tawaran tersebut. Beliau menjadi qadi dengan sebutan Qadi al-Malik al-Adil. Abdul Rauf telah diminta oleh Sultan untuk menulis sebuah kitab sebagai rujukan (qaanun) penerapan syariat Islam. Buku tersebut kemudian diberi judul Mir’at al-Tullab.

Berbagai kenyataan sejarah tadi menegaskan adanya pengakuan dan hubungan erat antara Alam Melayu dengan Khilafah Uthmaniyah. Bahkan, bukan hanya hubungan persaudaraan atau persahabatan tetapi adalah hubungan ‘kesatuan’ sebahagian dari Khilafah Utsmaniyah (Dar al-Islam).

KHILAFAH ISLAMIYAH DAN ALAM MELAYU “SEJARAH YANG DISEMBUNYIKAN”

Dr. Sallehuddin Ibrahim
Ikatan Intelektual Nusantara, [IKIN]

Seorang orientalis, Profesor William R. Roff (University of Edinburgh, Scotland), berkata bahawa ada keinginan besar di kalangan pengkaji Barat sejak penjajahan sehingga ketika ini untuk mengurangkan peranan Islam dan peranan Khilafah di kalangan masyarakat Muslim di alam Melayu. Malangnya ada tokoh politik, pemikir dan sejarawan Muslim yang terpengaruh dengan Barat sehingga mereka menyembunyikan malah ada yang menghina Khilafah.

Profesor Anthony Reid yang banyak membuat kajian tentang hubungan Khilafah dan Alam Melayu mengatakan, “Untuk Muslim Asia Tenggara, Khilafah Uthmaniyah yang terletak jauh di Turki mewakili suatu impian; keinginan untuk bernaung di bawah kekuasaan Islam ketika berlaku kemerosotan politik Islam. Tetapi terdapat tempoh penting yang menyaksikan impian itu mendatangkan kesan politik yang nyata” Beliau juga menegaskan,“Tidak perlu lagi diperkatakan bahawa impian supaya wujud kuasa Muslim yang kuat lagi maju terus memberi ilham kepada Muslim di mana-mana yang merasakan mereka lemah dan dijajah. Khilafah Uthmaniyah tersemat dalam hati mereka selama 400 tahun.”

Jika dilihat asal-usul Johor, ia berasal dari perkataan Arab ‘Jauhar’ yang bermakna permata. Hubungan Johor dengan Khilafah amat akrab khususnya sejak 1885 (Johor diperintah oleh Sultan Abu Bakar) hingga 1922 (Johor diperintah Sultan Ibrahim). Beberapa buah bangunan khasnya istana-istana dan masjid-masjid dipengaruhi oleh bentuk-bentuk bangunan lama di wilayah Khilafah. Pada 22 Februari 1893, Sultan Abu Bakar (Johor) dan Dato’ Abdul Rahman bin Andak (Dato’ Seri Amar DiRaja Johor) melawat ibukota Khilafah Uthmaniyyah dan berjumpa dengan Sultan Abdul Hameed Ke-2 di Turki. Sultan Abu Bakar dan pengiring-pengiringnya dikurniakan bintang-bintang kebesaran Darjah Utama Khilafah Uthmaniyah. Hikayat Johor meriwayatkan:

“… hingga pada akhirnya lantaslah Yang Maha Mulia (Sultan Johor) berjumpa dengan Yang Maha Mulia Sultan Abdul Hamid Khan di Konstantinopel (Istanbul). Maka diterimalah oleh baginda dengan sebaik-baik terimaan serta diraikan dengan secukup-cukupnya kerana amatlah gemar Yang Maha Mulia Sultan Turki itu melihatkan seorang raja sebelah timur begitu baik bawaan dan aturannya pada hal beragama Islam.”

Hubungan Sultan Abu Bakar dengan Sultan Abdul Hamid Ke-2 tetap merujuk kepada Khilafah. Sultan Abdul Hamid Ke-2 telah menjalin hubungan keluarga dengan mengurniakan dua orang wanita Turki, Khadijah Hanim untuk bernikah dengan Sultan Abu Bakar dan Ruqaiyah Hanim untuk bernikah dengan Engku Majid bin Temenggung Ibrahim (adinda Sultan Abu Bakar). Mereka dari wanita-wanita kesayangan ibu sultan dan isteri sultan. Tugasnya sebagai pengelola di istana Khilafah. Kebanyakan mereka dari Kaukasia (utara Turki, kini Georgia, Rusia).

Jauh sebelum merdeka dari penjajahan fizikal (ketenteraan) di alam Melayu telah berdiri pusat-pusat kekuasaan Islam yang berbentuk kesultanan. Mulai dari kesultanan Aceh yang terletak di hujung barat, kesultanan Melaka, kesultanan Johor, hingga kesultanan Ternate di hujung timur.

Berbagai catatan sejarah membuktikan bahawa kesultanan-kesultanan Islam tersebut bukan berdiri sendiri, melainkan mempunyai hubungan sangat erat dengan Khilafah Islamiyah, khususnya Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Tulisan ini akan mengulas secara ringkas beberapa bukti sejarah yang menggambarkan hubungan kesatuan antara kesultanan-kesultanan Islam di wilayah Nusantara dengan Khilafah Islamiyah.

Artikel dipetik daripada http://www.bicaramuslim.com/bicara7/

Friday, 31 October 2008

Ramalan Peramal-Peramal Terkemuka Tentang Al-Mahdi

Selain keterangan daripada setiap agama besar di dunia ini, terdapat pula sekumpulan peramal yang terkenal di dunia yang turut meramalkan kedatangan Imam Mahdi atau seorang pemimpin yang bertaraf dunia, yang akan turun untuk menjalankan pemerintahan yang sangat adil, pada zaman ini, pada abad ini, kurun ini dan alaf ini. Memang meramal sesuatu ramalan adalah suatu perbuatan yang buruk, boleh mendatangkan impak besar kepada akidah kita. Namun ramalan yang bertepatan maksudnya dengan perkabaran hadis-hadis, berita-berita daripada asar para sahabat RA, kasyaf para wali dan firasat para mukmin tidak salah jika disebutkan, karena keterangan mereka ini sebenarnya membantu menjelaskan lagi maksud hadis-hadis, asar-asar, kasyaf-kasyaf dan firasat-firasat itu. Hal ini sebenarnya tidak menjejaskan iman kita jika betul cara dan tempatnya.

Sebagian mereka ini adalah peramal semata-mata, manakala sebagian lagi adalah orang-orang besar bagi agama masing-masing, yang telah mencapai taraf kasyaf pula, yaitu menurut pandangan agama mereka.

Antara peramal bertaraf antarabangsa yang amat terkenal pada hari ini adalah Michel de Nostredame atau Nostradamus, suatu nama yang hampir sudah tidak perlu diperkenalkan lagi, karena sudah begitu terkenalnya. Ramalan-ramalannya sudah umum tersebar dan bukan sedikit pula yang sudah menjadi kenyataan. Antara ramalannya yang amat menggoncangkan dunia Barat ialah bahwa seorang pemimpin baru bertaraf dunia akan muncul, Islam akan kembali menguasai dunia pada alaf baru ini, dan seterusnya memerangi Kristian-Eropah.

Ramalannya bahwa seorang pemimpin baru beragama Islam akan muncul dan seterusnya menguasai seluruh dunia adalah berdasarkan ramalan beliau seperti berikut:

In the year 1999 and seven months
from the sky will come the great King of Terror.
He will bring back to life the King of the Mongols;
Before and after, war reigns.


Tempat muncul pemimpin tersebut adalah di sebuah negara di sebelah Timur, bukan di negara Arab atau di sebelah Barat, berdasarkan ramalan berikut:

From the three water signs (seas) will be born a man
who will celebrate Thursday as his feast day.
His renown, praise, reign, and power will grow
on land and sea, bringing trouble to the East.


Pemimpin berkenaan akan memimpin pasukan tenteranya
yang besar jumlahnya untuk menyerang dan menakluki Eropah,
dan dibantu oleh seluruh umat Islam.

One who the infernal gods of Hannibal
will cause to be reborn, terror of all mankind
Never more horror nor the newspapers tell of worse in the past,
then will come to the Romans through Babel (Iraq).


Pemimpin berkenaan memerangi, mengalahkan dan memasuki Eropah dengan memakai serban biru, membawa undang-undang Islam untuk diamalkan oleh seluruh penduduk Eropah, dan peristiwa besar inilah yang amat menakutkan setiap hati pemimpin Kristian dan Yahudi.

Anak murid Wali Songo yang amat terkenal di Pulau Jawa, Sabdopalon, turut menyebutkan bahwa Imam Mahdi akan dibaiat oleh sembilan tokoh Wali Ghausul Alam yang diketuai oleh seseorang dari Malaysia yang disebutkan sebagai Syeikh Malaya. Beliau menyebutkan bahwa,

“Imam Mahdi datang dengan pakaian serba putih dibantu oleh Rijalu’llah Ghaib atau juga disebut Wali Ghosul’alam sembilan yang di antaranya adalah Seh Malaya yang turun di Tanah Arab.”

Salah seorang Wali Songo yaitu Sunan Gunung Jati, turut membuat ramalan berdasarkan kasyaf dari Allah bahwa kebangkitan Islam kali kedua ini akan dipimpin oleh seorang tokoh yang memakai serban. Dia dikatakan amat berpegang teguh pada sorban kanjeng (ekor serban) Nabi Muhammad SAW. Yang dimaksudkan dengan sorban kanjeng itu adalah pemimpin umat yang terakhir, sesuai dengan kedudukan ekor serban yang terletak di hujung sekali. Sorban kanjeng juga bermaksud mengikut benar-benar setiap sunnah yang diamalkan oleh baginda Rasulullah SAW semasa hayatnya dahulu.

Peramal dari Jawa yang disebut sebagai Pangeran Wijil, yang mengarang Kitab Rangka Jayabaya, turut membuat ramalan bahwa pemimpin yang dimaksudkan itu, lahir di Makkah, memakai serban yang berlambang bunga tujuh cabang, orangnya selalu kesandung kesampar. Dia tidak pernah diduga akan menjadi pemimpin umat manusia pada suatu hari nanti. Dikatakan lebih lanjut lagi bahwa sebelum raja baru ini muncul, akan berlaku huru-hara dan kerusuhan. Dan raja itulah yang akan menjadi orang tengah atau pengaman di antara pihak yang sedang bergaduh itu. Tanpa diduga-duga, orang ramai pun bersetuju melantiknya sebagai pemimpin mereka karena jasanya yang amat besar itu dan keupayaannya yang menakjubkan itu.

Demikianlah sedikit lagi keistimewaan yang ada pada pribadi yang bergelar Imam Mahdi ini. Memang Imam Mahdi itu sungguh-sungguh adalah Orang Allah, orang yang dibesarkan karena sememangnya orang besar Tuhan, besar namanya, besar kedudukannya, patut dibesarkan dan perlu disebut secara besar-besaran pula. Sambutan kepada kemunculannya kelak, juga akan dibuat secara penuh besar-besaran, amat meriah, penuh gembira, sepenuh-penuh kesyukuran, sesuai dengan kedudukannya sebagai orang besar Allah itu. Tidak ada sambutan yang lebih besar dan meriah selain daripada sambutan terhadap kedatangannya ke dunia ini.

Dan, ekoran daripada kepercayaan kepada munculnya Imam Mahdi yang sangat istimewa inilah, muncul dari semasa ke semasa orang-orang yang mendakwa dirinya sebagai Imam Mahdi yang ditunggu-tunggu itu. Mereka ini langsung tidak berasa malu dengan dakwaan kosong mereka itu. Setelah beberapa lama masa berlalu, ternyata pula dakwaan mereka itu adalah palsu dan tujuan mereka di sebalik dakwaan itu terbongkar. Selalunya, mereka langsung tidak berjaya mendirikan kerajaan Mahdiyahnya, malah gagal pula mengubah keadaan masyarakat setempatnya kepada yang lebih baik, sedangkan yang demikian itu wajib berlaku karena telah disebutkan oleh hadis-hadis.

Artikel ini dirujuk daripada web http://www.bicaraaddin.com/

Imam Mahdi Muncul dengan Membawa Bendera Rasulullah SAW

A. Kata sahabat RA,

“Al-Mahdi akan keluar dengan membawa bendera yang sama seperti bendera Nabi SAW iaitu tanpa jahitan, berwarna hitam dan lebar, yang mana bendera ini tidak pernah berkibar lagi setelah wafat Nabi SAW, sehinggalah saat kemunculan al-Mahdi.”

B. Kata sahabat RA,

“Al-Mahdi akan keluar daripada Makkah dengan membawa bendera Rasulullah SAW.”

C. Kata tabiin RH,

“Al-Mahdi akan membawa bendera Rasulullah SAW, lengkap dengan cap-capnya sekali.”

D. Kata tabiin RH,

“Pertama kali bendera yang akan dikibarkan oleh al-Mahdi adalah ketika perjalanannya menuju pembaiatannya di Turki.”

E. Kata Qatadah RH, sabda Nabi SAW,

“Al-Mahdi akan keluar dari Makkah menuju ke Madinah. Orang ramai akan memaksanya keluar lalu dia dibaiat antara Rukun dengan Maqam sedangkan dia tidak menyukainya.” (Nuaim bin Hammad)

Bendera Hitam yang dimaksudkan itu adalah bendera kepunyaan Rasulullah SAW dahulu. Bendera itu bukan sebarang bendera dan bukan pula calang-calang bendera. Bendera ini adalah lambang kekuasaan Islam ke atas seluruh dunia. Bendera ini adalah juga lambang kekuatan rohani para pengikutnya, yang jumlahnya tidak ramai. Bendera ini juga adalah lambang tegaknya sunnah di atas segala kebatilan dan khurafat yang sebelumnya amat bermaharaja lela. Dengan adanya bendera Rasulullah SAW ini, nasib umat Islam di seluruh dunia amatlah terbela dan digeruni oleh mana-mana lawan pun. Bendera ini adalah lambang kekuasaan Islam, yang apabila bendera ini ditegakkan, maka akan musnah dan robohlah segala kekuasaan yang bukan Islam di tangan pemegang bendera ini, iaitu Imam Mahdi.


Oleh
Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA


AL-MAHDI
Pada akhir zaman akan keluar seorang laki-laki dari golongan Ahlul-Bait (keturunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam) dan Allah mengokohkan Dinnul Islam dengannya pada saat itu. Dia berkuasa selama tujuh tahun. Pada waktu itu dia memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya dipenuhi dengan kelaliman dan kezhaliman. Pada masanya umat manusia merasakan nikmat yang belum pernah dirasakan sebelumnya; bumi rnengeluarkan tumbuh-tumbuhan, langit menurunkan hujan, dan memberikan penghasilan (kekayaan) yang tak terhitung banyaknya.

lbnu Katsir rahimahullah berkata, "Pada waktu itu banyak buah-buahan, tanam-tanaman subur, harta melimpah, kekuasaan berjalan dengan baik, agama berdiri tegak, permusuhan sirna. dan kebaikan bersemarak." [An-Nihayah Fil-Fitan wal-Ma-lahim 1:31 dengan tahqiq DR. Thaha Zaini]


NAMANYA DAN SIFAT-SIFATNYA
laki-laki ini namanya seperti nama Rasulullah saw, dan nama ayahnya seperti nama ayah Rasulullah saw. Maka dia bernama Muhammad atau Ahmad bin Abdullah. Dia berasal dari keturunan Fatimah binti Rasulullah Saw, dari anak cucu Hasan bin Ali Radhiyallahu 'anhu

Ibnu Katsir berkata tentang Al-Mahdi, "Dia bernama Muhammad bin Abdullah Al-Alawi Al-Fathimi al-Hasani radhiyallahu 'anhu." [Ibid, halamann 29].

Dan sifat-sifat tubuhnya antara lain mukanya lebar dan hidungnya mancung.

TEMPAT KELUARNYA
Al-Mahdi akan muncul dari arah (kawasan) timur. Dalam sebuah hadits dari Tsauban ra, ia berkata: Rasulullah saw bersabda:


"Akan berperang tiga orang di sisi perbendaharaanmu. Mereka semua adalah putera khalifah. Tetapi tak seorang pun di antara mereka yang berhasil menguasainya. Kemudian muncullah bendera-bendera hitam dari arah timur, lantas mereka membunuh kamu dengan suatu pembunuhan yang belum pernah dialami oleh kaum sebelummu. " Kemudian beliau Saw menyebutkan sesuatu yang aku tidak hafal, lalu bersabda: "Maka jika kamu melihatnya, berbai'atlah walaupun dengan merangkak di atas salju, karena dia adalah khalifah Allah 'Al-Mahdi'�. "[1]

Ibnu Katsir rahimahullah berkata, "Yang dimaksud dengan perbendaharaan didalam hadits ini ialah perbendaharaan Ka'bah. Akan ada tiga orang putera khalifah (ia berperang di sisinya untuk memperebutkannya hingga datangnya akhir zaman, lalu keluarlah Al-Mahdi yang akan muncul dari negeri Timur, bukan dari dalam bangunan di bawah tanah Samira seperti anggapan orang-orang Rafidhah yang jahil bahwa Al-.Mahdi sekarang berada di sana dan mereka menanti keluarnya pada akhir zaman. Anggapan semacam ini merupakan igauan yang hina dari syetan, karena tidak ada dalil dan keterangannya sama sekali baik dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah, dari perkataan atau pemikiran orang sehat maupun dari istihsam."
Selanjutnya beliau mengatakan, "Dan beliau dikukuhkan oleh penduduk masyriq (kawasan timur) yang membantunya, menegakkan kekuasaannya, dan membangun pilar-pilarnya, dan bendera mereka juga berwarna hitam, yaitu warna yang melambangkan sikap merendahkan diri, karena bendera Rasulullah saw juga berwarna hitam yang diberi nama Al-'Uqab.... Maksudnya, bahwa Al-Mahdi yang terpuji dan dijanjikan akan muncul pada akhir zaman, kemunculannya adalah dari wilayah timur dan dia dibai'at di sisi Baitullah sebagaimana ditunjuki oleh beberapa hadits. "[2]


[Disalin dari kitab Asyratus Sa'ah edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat, Penulis Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabl MA, Penerjemah Drs As'ad Yasin, Penerbit CV Pustaka Mantiq]

Dipetik dan dirujuk daripada web http://www.bicaraaddin.com/

DALIL SISTEM KHILAFAH AKAN MUNCUL SEBELUM KIAMAT

1. Dalil Al Quran

Dan Allah telah menjanjikan kepada orang2 beriman di antara kamu dan yg mengerjakan amal soleh, bahawa mereka sesungguhnya akan dijadikan khalifah yg berkuasa di muka bumi ini
sebagaimana telah dijadikan khalifah orang2 sebelum mereka, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yg telah diredhaiNya untuk mereka, dan dia benar2 akan menukar [keadaan] mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentiasa’
Surah An Nur: 55

2. Dalil Al Hadis
Dari Nukman bin Basyir, katanya…

‘Suatu ketika kami sedang duduk2 di Masjid Nabawi dan Basyir itu seorang yg tidak banyak bercakap.

Datanglah Abu Saklabah lalu berkata
” Wahai Basyir bin Saad, adakah kamu hafaz hadis Rasulullah tentang para pemerintah?’

Huzaifah RA lalu segera menjawab.
” Aku hafaz akan khutbah Rasulullah SAW itu.”

Maka duduklah Abu Saklabah Al Khusyna untuk mendengar hadis berkenaan.

Maka kata Huzaifah RA, Rasulullah SAW telah bersabda.

“Telah berlaku Zaman Kenabian ke atas kamu, maka berlakulah Zaman Kenabian sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkat zaman itu seperti
yg Dia kehendaki.”

Kemudian belakulah zaman Kekhalifahan (Khulafaur Rasyidin) yang berjalan sepertimana Zaman Kenabian. Maka berlakulah zaman itu sebagaimana yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya.

Lalu berlakulah zaman pemerintahan yang mengigit (Zaman Fitnah -keamiran/beraja /zaman kesultanan ) Berlakulah zaman itu seperti yang Allah kehendaki. Kemudian Allah mengangkatnya pula.

Kemudian berlakulah zaman penindasan dan zaman penzaliman(Zaman pemerintahan diktator dan demokrasi) dan berlakulah zaman itu seperti mana yang Allah kehendaki.

Kemudian berlakulah pula zaman kekhalifahan (Imam Mahdi dan Nabi Isa as ) yang berjalan di atas cara hidup Zaman Kenabian.”

Kemudian Rasulullah SAW pun diam….

~Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal di dalam
kitabnya Musnad Al Imam Ahmad bin Hanbal, Juzuk 4, halaman 273.
Juga terdapat dalam kitab As-Silsilatus Sahihah, Jilid 1,
hadis nombor 5.]


Dipetik dari laman http://heliconia.wordpress.com/

Perbezaan pengiraan kalender Islam dan Kristian

Oleh Shaikh Mohd Saifuddeen Shaikh Mohd Salleh

Pengiraan takwim Islam berlandaskan pergerakan dan kedudukan bulan, berbeza dengan pengiraan sistem AD dan CE yang melihat kepada kedudukan dan pergerakan matahari.. Masyarakat Islam kita hari ini, terutamanya generasi muda sering terikut-ikut budaya Barat ketika menyambut tahun baru. Mereka sepatutnya lebih mengutamakan sambutan 1 Muharram

Perkembangan takwim banyak berhubung kait dengan faktor keagamaan dan sains. Dalam hal ini, ada dua cara pengiraan takwim, iaitu dengan menggunakan matahari (syamsiah atau solar) dan bulan (qamariah atau lunar).

Berkenaan penetapan takwim, Allah berfirman yang membawa maksud:

"Dialah yang menjadikan matahari bersinar-sinar (terang-benderang) dan bulan bercahaya, dan Dialah yang menentukan perjalanan tiap-tiap satu itu (berpindah-pindah) pada tempat-tempat peredarannya (masing-masing) supaya kamu dapat mengetahui bilangan tahun dan kiraan masa. Allah tidak menjadikan semuanya itu melainkan dengan adanya faedah dan gunanya yang sebenar. Allah menjelaskan ayat-Nya (tanda-tanda kebesaran-Nya) satu persatu bagi kaum yang mahu mengetahui (hikmat sesuatu yang dijadikan-Nya."
(Surah Yunus, ayat 5)


Secara umumnya, orang Rom mempopularkan penggunaan takwim solar dan pada peringkat awal, penggunaan takwim dikira bermula daripada masa bandar Rom diasaskan.

Tarikh yang digunakan ditanda dengan perkataan Rumawi iaitu ab urbe condita (auc) yang bermaksud “dari tarikh pengasasan bandar”. Andai kata tarikh ini masih dipakai hari ini, kita sekarang berada pada tahun 2757 auc.

Apabila Julius Caesar menawan Mesir pada tahun 48 sebelum Masihi, beliau memperkenalkan apa yang dipanggil takwim solar Julian (bersempena dengan namanya) pada tahun 709 auc atau tahun 46 sebelum Masihi.Takwim ini dikatakan diperkenalkan setelah Julius Caesar meminta seorang ahli falak bernama Sosigenes untuk membuat perubahan kepada takwim yang sedia ada pada ketika itu.Takwim baru ini mempunyai 12 bulan dalam setahun dengan bilangan hari sebanyak 365 hari dengan tambahan sehari bagi setiap empat tahun.

Namun begitu, sejarah merekodkan bahawa kesilapan berlaku dalam pengiraan takwim Julian ini apabila tambahan satu hari pada setiap empat tahun tidak dilakukan, sebaliknya tambahan ini dilakukan pada setiap tiga tahun.Ini berlaku antara tahun 43 sebelum Masihi sehingga tahun 10 sebelum Masihi.

Augustus Caesar yang menggantikan Julius Caesar sebagai pemerintah Empayar Rom mengarahkan supaya pengiraan tahun lompat ini dihentikan dan hanya disambung pada tahun empat selepas Masihi.

Augustus Caesar juga membuat beberapa perubahan kepada jumlah hari dalam sebulan. Pada asalnya, dikatakan bulan Februari mempunyai 29 hari dan 30 hari bagi tahun lompat.Februari kehilangan satu hari kerana pada satu ketika, dua daripada bulan dalam takwim Julian dinamakan Julai (sempena Julius Caesar) dan Ogos (sempena Augustus Caesar).

Pada asalnya Ogos hanya mempunyai 30 hari, namun Augustus Caesar menganggap dirinya sama hebat jika tidak lebih hebat daripada Julius Caesar, maka beliau telah memerintahkan supaya bulan Ogos ditambah satu hari. Ini menjadikan jumlah hari dalam bulan Ogos sebanyak 31 sama seperti bulan Julai.

Kesan pembesaran Empayar Rom menyaksikan penyebaran penggunaan takwim Julian yang kemudian turut diterima pakai gereja Kristian.Pada tahun 527 Masihi, seorang paderi Rom bernama Dionysius Exiguus memperkenalkan sistem pengiraan takwim yang diberi nama Anno Domini atau AD (yang memulakan tarikh 1 AD sempena kelahiran Isa al-Masih). Orang Islam menggelarkan pengiraan ini sebagai al-Masihiah atau Masihi.

Menariknya, berlaku kekeliruan dengan tarikh lahirnya Nabi Isa apabila Dionysius Exiguus menyatakan bahawa Nabi Isa lahir pada tahun 754 auc tetapi ramai yang beranggapan bahawa kiraan Exuguus tidak tepat dan mempunyai ralat sebanyak beberapa tahun.

Jika ditinjau panjang purata setahun bagi takwim Julian ialah 365.25 hari dengan satu hari ditambah setiap empat tahun, ini jauh berbeza dengan panjang sebenar bagi setahun.Namun demikian, di kalangan ahli astronomi sendiri, panjang sebenar tempoh satu tahun dipertikaikan.
Pendapat popular berpegang kepada purata tahun tropika iaitu 365.2422 hari dalam setahun manakala satu lagi pendapat mengatakan bahawa panjang purata setahun ialah 365.2424 hari.

Beza nilai ini ialah masing-masing 0.0078 hari (11 minit 13.8 saat) dan 0.0076 hari (10 minit 56.4 saat).

Akibatnya setiap 131 tahun, takwim Julian ini akan berganjak menyebabkan ia tidak lagi selari dengan perubahan musim solstis dan ekuinoks yang merujuk kepada kedudukan matahari dengan bumi dan ini menjadi sumber pengiraan yang penting bagi hari-hari kebesaran Kristian.

Menjelang abad ke-16, tarikh Hari Easter yang sepatutnya berlaku semasa Ekuinoks Musim Bunga telah memasuki musim panas.Bagi mengatasi masalah ini, Pope Paul III mendapatkan beberapa ahli astronomi seperti Christopher Clavius untuk mencari penyelesaian kepada keadaan gawat itu dan kajian dilakukan sehinggalah Gregory XIII menjadi Pope Gereja Roman Katolik.Beberapa cadangan dikemukakan dan Gregory XIII memilih cadangan Clavius. Pada 24 Februari 1582, beliau memperkenalkan beberapa perubahan kepada pengiraan takwim dan ini dikenali sebagai "Takwim Gregorian".

Perubahan yang diperkenalkan adalah seperti berikut:

Sebanyak 10 hari ditolak daripada takwim yang dipakai pada ketika itu menjadikan hari yang menyusul selepas Khamis, 4 Oktober 1582 sebagai Jumaat 15 Oktober, 1582 (5 Oktober 1582 jika menurut kiraan Julian).

Bagi pengiraan tahun lompat Julian, tahun itu mestilah boleh dibahagi dengan angka 4. Dalam perubahan yang diperkenalkan melalui takwim Gregorian, sesuatu tahun lompat itu hanya dikira jika sama ada boleh dibahagi dengan 400.

Oleh itu, setiap tahun yang boleh dibahagi dengan 4 ialah tahun lompat melainkan jika boleh dibahagi dengan 100 dan tidak dengan 400.

Ini menjadikan tahun-tahun 1600 dan 2000 sebagai tahun lompat tetapi tidak demikian bagi tahun-tahun 1700, 1800, 1900 dan 2100.

Hari pertama tahun baru ditetapkan pada 1 Januari setiap tahun.

Hari bagi tahun lompat ditetapkan pada 29 Februari.

Penggunaan takwim berkenaantersebar serta-merta ke negara Roman Katolik seperti Sepanyol, Itali, Portugal, Poland, Perancis dan Luxembourg dan secara berperingkat digunakan di negara seperti Jerman, Belgium, Switzerland, Belanda dan Hungary.Britain hanya menggunakan takwim ini dalam tahun 1752 dengan perubahan pada tarikh dilakukan pada Khamis 14 September 1752 (tarikh ini ditukarkan daripada 2 September 1752).Koloni British di seluruh dunia, termasuk Tanah Melayu, turut melakukan perubahan itu.

Akibat daripada penggunaan takwim Gregorian ini, terdapat dua tarikh bagi satu hari yang sama antara abad ke-16 dan ke-18, bergantung kepada takwim mana yang digunakan.Mengikut konvensyen, tarikh yang menggunakan takwim Julian ditandakan dengan “OS” yakni old style manakala tarikh yang menggunakan takwim Gregorian ditandakan dengan “NS” atau new style.

Negara lain di dalam dunia turut menggunakan takwim Gregorian ini secara berperingkat misalnya Jepun (1873), Mesir (1875), Eropah Timur (antara 1912 dan 1919), Russia 1918) dan Turki (1927).

Ringkasan AD yang diterima pakai bagi pengiraan takwim Gregorian ialah ringkasan kepada “Anni Domini Nostri Jesu Christi” yang bermaksud “dalam tahun Tuhan Kami Jesus Christ.”

Takwim ini mempunyai konotasi kepada agama Kristain, oleh sebab itu mungkin menyebabkan rasa tidak senang hati di kalangan penganut Islam dan Yahudi khususnya, maka ringkasan AD diganti dengan CE iaitu “Christian Era” manakala BC (“Before Christ”) diganti dengan BCE (untuk Before Christian Era).Namun demikian, di kalangan orang Islam di Malaysia dan rantau Melayu umumnya, ringkasan SM (sebelum Masihi) dan TM (tahun Masihi) lebih kerap digunakan.

Bagi penganut Kristian, sambutan tahun baru mempunyai konotasi keagamaan kerana tahun baru menandakan ulang tahun kelahiran al-Masih namun, kepada orang lain sambutan itu mempunyai konotasi yang berbeza.Perubahan angka pada tahun hanya berlaku sekali setahun dan semua ini mempunyai kaitan dengan keadaan manusia itu sendiri.Jika dilihat kepada sejarah, 2004 misalnya menyaksikan banyak pertumpahan darah dan tragedi yang berlaku di Iraq, Sudan, Russia, Thailand dan beberapa negara lain.

Bermulanya 2005 dilihat sebagai satu tanda harapan untuk memulakan kehidupan yang lebih baik tetapi yang menjadi persoalan sekarang, adakah wajar sambutan tahun baru disambut oleh orang Islam dengan pesta, hiburan dan hedonisme? Tiada salahnya menyambut ketibaan tahun baru jika niat yang disertakan adalah untuk membawa perubahan ke arah yang lebih baik.

Sudah tentulah berpesta dan bersuka-ria tanpa mengikut lunas syariat Islam yang dilarang dan ditegah. Menurut pandangan Islam, peredaran masa ialah satu proses alam yang ditetapkan Allah bagi dunia ini. Malah di dalam al-Quran banyak ayat yang diturunkan menegaskan pentingnya masa dalam kehidupan manusia.

Jika ditinjau secara logik, 1 Januari hanyalah satu hari dalam setahun yang tidak mempunyai apa-apa signifikan besar kepada kehidupan manusia melainkan hanya menjadi tanda bermulanya era baru berasaskan pengiraan takwim solar yang mempunyai asal-usulnya kepada agama Kristian.

Islam mempunyai kiraan takwim sendiri apabila Saidina Umar al-Khattab menetapkan bermulanya peristiwa hijrah Rasulullah sebagai tahun bermulanya pengiraan takwim Islam. Pengiraan takwim Islam berlandaskan pergerakan dan kedudukan bulan berbeza dengan pengiraan sistem AD dan CE yang melihat kepada kedudukan dan pergerakan matahari.

Orang Kristian menggunakan pengiraan berdasarkan solar kerana hari kebesarannya banyak membabitkan kedudukan matahari dan pergerakan musim seperti Hari Easter dan seumpamanya. Golongan muda nampaknya begitu ghairah dengan sambutan tahun baru tetapi sayangnya cara berseronok itu tidak selari dengan kehendak agama Islam.

Sambutan tahun baru perlu dilakukan dengan hasrat untuk berubah ke satu keadaan yang lebih baik malangnya apa yang kita lihat ialah seolah-olah budaya hedonisme yang menerap masuk membawa bersamanya keruntuhan moral dan akhlak. Satu perkara yang mungkin wajar direnungkan ialah mengapa orang Islam begitu beria meraikan 1 Januari dan pada waktu yang sama seperti tidak mempedulikan 1 Muharam?

Sepatutnya konsep hijrah yang dibawa oleh perayaan Maal Hijrah perlu dihayati oleh setiap umat Islam. Adakah Maal Hijrah setiap tahun hanyalah satu cuti umum dalam kalendar tahunan kita semata-mata?

Penulis adalah Felo Kanan Pusat Sains dan Teknologi di Institut Kefahaman Islam Malaysia (IKIM). Artikel dirujuk daripada http://halaqah.net/

Tuesday, 28 October 2008

Numerical Miracles from the Qur'an

It wasn't until the 1900's that a Muslim scholar and his students counted and indexed every word from the Holy Qur'an. This provided a new form of analysis that scientifically supports the divine origin of the book. Dr. Tariq Al Suwaidan iscovered some verses in the Holy Qur'an that mention one thing is equal to another. For example, man is equal to woman. Likewise, the number of times the word MAN appears in the Qur'an is 24 & the number of times the word WOMAN appears is also 24. Upon further analysis of other verses, he discovered that this is consistent throughout the whole Qur'an, where it states that one thing is like another. The results are astonishing. For example: Let's examine the word Dunya-(the life of this world) & Aakhirat (the life of the hereafter). The number of times Dunya & Aakhirat are mentioned is 115 times each. The list of examples go on:



* Malaikah or angels are mentioned 88 times, while Shayton or (Satan) is also mentioned 88 times
* The word Life is mentioned 145 times & Death 145
* Benefit is mentioned 50 times & the word Corrupt is also mentioned 50
* The name for the King of the Devils Eblees is mentioned 11 times, and seeking protection from Eblees is likewise mentioned 11 times
* The word for spending (sadaqah) occurs 73 times & satisfaction 73
* Magic occurs 60 & Fitnah (dissuasion, misleading) occurs 60
* Mind - 49 & Noor (light) 49
* Zakat (paying the required poor due) 32 & Barakah (increase of blessings in wealth and provision) 32
* The word Museebah (calamity) 75 & the word thanks 75
* Tongue - 25 & Sermon - 25
* The word People - 50 & the word Messengers - 50 times
* Muslimeen - 41 & Jihad-(struggling) - 41
* Gold - 8 & the easy life - 8
* Hardship - 114 & Patience - 114
* The name of the Prophet Muhammad (pbuh) - 4 & Sharee'ah (Muhammad's teachings) - 4
* Man - 24 & Woman - 24

Further numerical miracles present themselves. Such as "Salah" or PRAYER is mentioned 5 times, just as there are 5 daily prayers. Also the word "MONTHS" is mentioned - 12 times and the word "DAYS" is mentioned 365 times in the Holy Qur'an. Just a coincidence? One of the most astonishing is that the word "SEA" is mentioned 32 times, while the word "LAND" is mentioned 13 times. These two number's significance is clear in the below equation: The total surface of the earth can be figured by adding:

SEA + LAND (32+13=45). By taking the number representing the SEA and dividing it by the Total Mass, which is (both land & sea area combined) you will arrive at the correct calculation for the ocean vs. land coverage of the earth.



%SEA = 32/45 * 100 = 71


%LAND =13/45 * 100 = 29




Modern science has only recently discovered the fact that all water on Earth covers precisely 71% of the its surface, while the land covers 29%.


With these miracles and more listed in the Qur'an, one could convincingly argue the authenticity of the Qur'an. God, the All-Mighty, the All-Wise has certainly sent these evidences as a blessing for the believers and as yet another sign supporting the truthfulness of His Glorious Recitation - Al Qur'an Al Kareem. As Allah (S.W.T.) says: "(This is) a book, the verses where of are perfected (in every sphere of knowledge), and then explained in detail from one (God) who is All-Wise and Well-Acquainted (with all things)." Not only are Dr. Tariq's findings fascinating, but it is interesting to point out the importance of some of the correlations, for instance, hardship with patience, and mind with light. These correlations may provide additional insight to the meaning of the Qur'an for those introspective readers.

Information for this article was taken from a paper written by Dr. Tariq Al Suwaidan, past Tulsan, and a Gary Miller speech from the website: Islaam.com

Or visit http://www.isgoc.com/aboutislam/science&islam/index.htm

Explore greatest scientists of Muslims



No


Scientist's Name

Work Area

Age/Birth

1
Jabir Ibn Haiyan (Geber)
Chemistry (Father of Chemistry)
Died 803 C.E.
2
Al-Asmai
Zoology, Botany
740 - 828
3
Al-Khwarizmi
Mathematics, Astronomy, Geography
770 - 840
4
Amr ibn Bahr
Zoology, Arabic Grammar,Lexicography
776-868
5
Ibn Ishaq
Philosophy, Physics, Optics, Medicine
800 - 873
6
Thabit Ibn Qurrah
Astronomy, Mechanics, Geometry
836 - 901
7
Abbas Ibn Firnas
Mechanics of Flight, Planetarium
Died 888
8
Ali Ibn Rabban
Medicine, Mathematics, Caligraphy
838 - 870
9
Al-Battani
mathematics, Trigonometry
858 - 929
10
Al-Farghani
Astronomy, Civil Engineering
CE 860
11
Al-Razi
Medicine, Ophthalmology, Smallpox
864 - 930
12
Al-Farabi
Sociology, Logic, Philosophy
870 - 950
13
Abul Hasan Ali
Geography, History
Died 957
14
Al-Sufi
Astronomy
903 - 986
15
Abu Al-Qasim Al-Zahravi
Surgery, Medicine
936 - 1013
16
Muhammad Al-Buzjani
Mathematics, Astronomy, Geometry
940 - 997
17
Ibn Al-Haitham
Physics, Optics, Mathematics
965 - 1040
18
Al-Mawardi
Political Science, Sociology
972 - 1058
19
Abu Raihan
Astronomy, Mathematics
973-1048
20
Ibn Sina
Medicine, Philosophy, Mathematics
981 - 1037
21
Al-Zarqali
Astronomy
1028 - 1087
22
Omar Al-Khayyam
Mathematics
1044 - 1123
23
Al-Ghazali
Sociology, Theology, Philosophy
1058 - 1111
24
Abu Bakr Muhammad
Philosophy, Medicine, Mathematics
1106 - 1138
25
Ibn Zuhr
Surgery, Medicine
1091 - 1161
26
Al-Idrisi
Geography
1099 - 1166
27
Ibn Rushd
Philosophy, Law, Medicine, Astronomy
1128 - 1198
28
Al-Bitruji
Astronomy
1140-1204

The Mother Mosque Of America


MMwelcome.jpg
Dr. Thomas B. Irving (left) and Imam Taha Tawil (right) welcome you

Imam.jpg
The Imam Message
All Praise is due to God Alone, we Praise Him and Ask for his help and guidance. I bear witness "there is no god but Allah Alone, and I bear witness that Muhammad is his last Prophet and Messenger."

Assalamu'alay-kum (Peace be upon you!).

Welcome to our newborn Mother Mosque with its renovations and restoration, which sparks new openness in the history of Cedar Rapids, with new understanding and leadership. Our revived Mother Mosque serves as a symbol of the roots of Islam in North America and especially in the State of Iowa.

The Mother Mosque is in IOWA, the hearthland of America, Cedar Rapids, Iowa where hospitality, generousity, and tolerance is well known facts... From fields of tulips...to the field of dreams...From covered bridges....to covered wagon...From America's castles...to classic barns...From fields of corns...to Quacker Oat...From Czech Museum..to the Mother Mosque of America...IOWA welcomes you.

The Mother Mosque stands today as a piece of American history, monument, and a landmark; it also symbolize a new openness, as it opens its doors to all those who are seeking knowledge about Islam and Muslims, about the Arab world and its culture, or general information about the Middle East.

On behalf of the Mother Mosque, we welcome all of you to come and explore not only IOWA the heartland of America, but also the first mosque that was built for Muslims in America. We hope that you can visit us or call upon us for all your spiritual and intellectual needs.

Imam Taha A. Tawil.

Refer to http://www.mothermosque.org/

Al Masudi's Map of the World (871-957 CE). Evidence of Muslim presence in the Americas before Columbus


Muslim historian and geographer Al Masudi (871-957CE) wrote in his book "The Meadows of Gold and the Quarries of Jewels" that during the rule of the Muslim Caliph of Spain Abdullah ibn Muhammad (888-912CE), a Muslim navigator Ibn Aswad crossed the Atlantic in 889 CE, reached an unknown territory (ard majhoola) and returned with fabulous treasures.

In Al Masudi's map of the world there is a large area in "the ocean of darkness and fog" (Atlantic ocean) which he referred to as the "Unknown Territory" (identified today as South America).

Deeper Roots:
Muslims in the Americas and the Caribbean
From Before Columbus To the Present

Dr. Abdullah Hakim Quick
Ta-Ha Publishers Ltd, London, 1998.





Refer to wesite http://www.cambridgemuslims.info/DidYouKnow/

Medieval Islamic Coins found near Cambridge, MA
Evidence of Muslim presence in the Americas before Columbus

Medieval Islamic coins of North Africa from a buried hoard found in 1787, during road-building excavations between Cambridge and Malden, Massachusetts, USA. (Coins A and B)

From Saga America, Barry Fell, 1980, Published by Times books, New York, pages 26-27, 30.

We have, in fact, a long history of recovering ancient coins from American soil -- coins that, for some unaccountable reason, we have persistently contrived to ignore. Take, for example, the events that occurred some two centuries ago on a stretch of highway only a few minutes' drive from Massachusetts (USA).

The year was 1787, and the Reverend Thaddeus Mason Harris was making his way along the Cambridge-Malden road (now known as Route 16), probably turning over in his mind the prospects of the young Republic, whose very Constitution was that year being hammered out by the Congress summoned for that purpose. As he rounded a bend, he saw before him a cluster of people gathered about some unusual object. As he afterwards recorded in a letter to John Quincy Adams, he learned that some workmen had been engaged in widening a section of the road when a pickaxe had struck a horizontal flat slab of stone buried beneath the surface. When the slab was cleared and prized up, it was found to serve as a protective cover of a concealed cache of ancient coins, of which "two quarts" now lay exposed to view, hundreds of small square pieces of base metal (a copper-silver alloy) each bearing unknown signs stamped on the faces. The finders concluded that they were worthless, and passers-by, including Harris himself, were invited to take away handfuls. Hundreds of coins were thus dispersed."

Of all the people who carried off samples of these curiosities, Harris alone took steps to place the matter on record. After fruitless attempts to identify the inscriptions (actually Kufic, an ancient form of Arabic) and research in Harvard Library to no result, he had illustrations drawn and these, together with the account he sent to John Quincy Adams, were published by the American Academy of Arts and Science, in Boston. And there the matter rested for nearly two hundred years, until James Whittall, of the Early Sites Research Society, chanced upon the old report written by Harris and took steps to notify me and the American Numismatic Society."

Coin C: Smarkand coin struck in 903 CE and found at Gulland, Denmark.

Islamic coins have been found in hoards of hundreds in both America and Scandinavia. Some of the Islamic coins found in America may have been brought by Norsemen, as thousands of such coins of the ninth to the eleventh centuries are found in the soil of Scandinavia.

Coins A and B: Medieval Islamic coins of North Africa from a buried hoard found in 1787, during road-building excavations between Cambridge and Malden, Massachusetts.

Coin C:, coin of Smarkand struck in 903 AD and found at Gulland, Denmark. The central inscription reads: 'There is no god but Allah alone, and no partner for him.' The marginal inscription reads, 'In the name of Allah was coined this drachma [dirhem] in Samarqand.'

From Saga America, Barry Fell, 1980, Published by Times books, New York, pages 26-27, 30

This articel from http://www.cambridgemuslims.info/DidYouKnow/CambridgeMA/



Friday, 24 October 2008

The Mathematical Sciences and Physics

The Muslim mind has always been attracted to the mathematical sciences in accordance with the "abstract" character of the doctrine of Oneness which lies at the heart of Islam. The mathematical sciences have traditionally included astronomy, mathematics itself and much of what is called physics today. In astronomy the Muslims integrated the astronomical traditions of the Indians, Persians, the ancient Near East and especially the Greeks into a synthesis which began to chart a new chapter in the history of astronomy from the 8th century onward. The Almagest of Ptolemy, whose very name in English reveals the Arabic origin of its Latin translation, was thoroughly studied and its planetary theory criticized by several astronomers of both the eastern and western lands of Islam leading to the major critique of the theory by Nasir al-Din al-Tusi and his students, especially Qutb al Din al-Shirazi, in the 13th century.

The Muslims also observed the heavens carefully and discovered many new stars. The book on stars of 'Abdal-Rahman al-Sufi was in fact translated into Spanish by Alfonso X el Sabio and had a deep influence upon stellar toponymy in European languages. Many star names in English such as Aldabaran still recall their Arabic origin. The Muslims carried out many fresh observations which were contained in astronomical tables called zij. One of the acutest of these observers was al-Battani whose work was followed by numerous others. The zij of al-Ma'mun observed in Baghdad, the Hakimite zij of Cairo, the Toledan Tables of al Zarqali and his associates, the Il-Khanid zij of Nasir al-Din al-Tusi observed in Maraghah, and the zij of Ulugh-Beg from Samarqand are among the most famous Islamic astronomical tables. They wielded a great deal of influence upon Western astronomy up to the time of Tycho Brahe. The Muslims were in fact the first to create an astronomical observatory as a scientific institution, this being the observatory of Maraghah in Persia established by al-Tusi. This was indirectly the model for the later European observatories. Many astronomical instruments were developed by Muslims to carry out observation, the most famous being the astrolabe. There existed even mechanical astrolabes perfected by Ibn Samh which must be considered as the ancestor of the mechanical clock.

Astronomical observations also had practical applications including not only finding the direction of Makkah for prayers, but also devising almanacs (the word itself being of Arabic origin). The Muslims also applied their astronomical knowledge to questions of time keeping and the calendar. The most exact solar calendar existing to this day is the Jalali calendar devised under the direction of 'Umar Khayyam in the 12th century and still in use in Persia and Afghanistan.

As for mathematics proper, like astronomy, it received its direct impetus from the Quran not only because of the mathematical structure related to the text of the Sacred Book, but also because the laws of inheritance delineated in the Quran require rather complicated mathematical solutions. Here again Muslims began by integrating Greek and Indian mathematics. The first great Muslim mathematician, al-Khwarazmi, who lived in the 9th century, wrote a treatise on arithmetic whose Latin translation brought what is known as Arabic numerals to the West. To this day guarismo, derived from his name, means figure or digit in Spanish while algorithm is still used in English. Al-Khwarazmi is also the author of the first book on algebra. This science was developed by Muslims on the basis of earlier Greek and Indian works of a rudimentary nature. The very name algebra comes from the first part of the name of the book of al-Khwarazmi, entitled Kitab al-jabr wa'l-muqabalah. Abu Kamil al-Shuja' discussed algebraic equations with five unknowns. The science was further developed by such figures as al-Karaji until it reached its peak with Khayyam who classified by kind and class algebraic equations up to the third degree.

The Muslims also excelled in geometry as reflected in their art. The brothers Banu Musa who lived in the 9th century may be said to be the first outstanding Muslim geometers while their contemporary Thabit ibn Qurrah used the method of exhaustion, giving a glimpse of what was to become integral calculus. Many Muslim mathematicians such as Khayyam and al-Tusi also dealt with the fifth postulate of Euclid and the problems which follow if one tries to prove this postulate within the confines of Eucledian geometry.

Another branch of mathematics developed by Muslims is trigonometry which was established as a distinct branch of mathematics by al-Biruni. The Muslim mathematicians, especially al-Battani, Abu'l-Wafa', Ibn Yunus and Ibn al-Haytham, also developed spherical astronomy and applied it to the solution of astronomical problems.

The love for the study of magic squares and amicable numbers led Muslims to develop the theory of numbers. Al-Khujandi discovered a particular case of Fermat's theorem that "the sum of two cubes cannot be another cube", while al Karaji analyzed arithmetic and geometric progressions such as:

1**3+2**3+3**3+...+n**3=(1+2+3+...+n)** 2

Al-Biruni also dealt with progressions while Ghiyath al-Din Jamshid al-Kashani brought the study of number theory among Muslims to its peak.

In the field of physics the Muslims made contributions in especially three domains. The first was the measurement of specific weights of objects and the study of the balance following upon the work of Archimedes. In this domain the writings of al-Biruni and al-Khazini stand out. Secondly they criticized the Aristotelian theory of projectile motion and tried to quantify this type of motion. The critique of Ibn Sina, Abu'l-Barakat al-Baghdad), Ibn Bajjah and others led to the development of the idea of impetus and momentum and played an important role in the criticism of Aristotelian physics in the West up to the early writings of Galileo. Thirdly there is the field of optics in which the Islamic sciences produced in Ibn al-Haytham (the Latin Alhazen) who lived in the 11th century, the greatest student of optics between Ptolemy and Witelo. Ibn al-Haytham's main work on optics, the Kitab al-manazir, was also well known in the West as Thesaurus opticus. Ibn al-Haytham solved many optical problems, one of which is named after him, studied the property of lenses, discovered the camera obscura, explained correctly the process of vision, studied the structure of the eye, and explained for the first time why the sun and the moon appear larger on the horizon. His interest in optics was carried out two centuries later by Qutb al-Din al Shirazi and Kamal al-Din al-Farisi. It was Qutb al Din who gave the first correct explanation of the formation of the rainbow.

It is important to recall that in physics as in many other fields of science the Muslims observed, measured and carried out experiments. They must be credited with having developed what came to be known later as the experimental method.

Muslim Achievements in Science

Muslim mathematicians devised and developed algebra
Al-Khawarazmi used Arabic numerals which came to the west through his work-9th century.
Al-Razi described amd treated smallbox-10th century
Ibn Sina diagnosed and treated meningities-11th century
Ibn al-Haytham discovered the camera obscura- 11th century
Al-Birini described the Ganges Valley as a sedimentary basin-11th century
Muslims built the first observartory as a scientific institution-13th century
Qutb al-Din al-Shirazi explained the cause of the rainbow- 13th century
Ibn al-Nafis described the minor ciculation of the blood- 14th century.
Al-Kashani invented a computer machine- 15th century


Incorporated from the Magazine "Islam: A Global Civilization", prepared by Islamic Affairs Department, The Embassy of Saudi Arabia, Washington, D.C.

This article refer to website http://www.islamicity.com/

Search This Blog