Others weblink

Powered by  MyPagerank.Net

Pages

Tuesday, 17 June 2008

Sejarah Islam Di Indonesia dan Asia

Masjid Baiturrahman, Aceh

20 tahun selepas wafatnya Rasulullah S.A.W Khalifah Uthman Ibn Affan R.A mengutus delegasi ke Cina untuk memperkenalkan daulah Islam yang telah lama berdiri iaitu pada tahun 30 Hijriah atau 651 Masehi. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Uthman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, iaitu tahun 674 M, Kerajaan Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Islam terus berdagang disini, sejak berabad-abad lamanya. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.


Lama kelamaan penduduk disini mula memeluk Islam walaupun bukan secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah tempat yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi, yang pada ketika itu singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah banayak tersebar mazhab Syafi'i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang dijumpai di Indonesia iaitu di Gresik, Jawa Timur. Merupakan komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada zaman Kerajaan Singasari. Hasil daripada kajian makam-makam ini bukanya dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab yang tiba di sini.


Masjid Keraton Kasepuhan Cirebon yang dibangun tahun 1480 M

Pada abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Hanya pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam dengan luasnya. Pakar sejarah berpendapat bahwa Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan pada ketika itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik. Yaitu dengan adanya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islam pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara secara damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil'alamin.

Semenjak datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerjasama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha.

Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Melaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangunkan sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun taktik Portugis ini gagal sama sekali setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bantu-membantu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih dikenali dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.


Padang Indonesia 1900

Kedatangan kaum kolonialis di satu tempat telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di kawasan lain ternyata akidah Islam masih tidak dapat dihalusi. Hanya kalangan pengikut (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun ianya terbatas kepada mazhab Syafi'i. Sedangkan kebanyakan para muslimin, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan penduduk yang dekat dengan Belanda pada kitika itu sudah terikut-ikut gaya kehidupan Eropah. Gaya hidup seperti ini sehingga kini masih terjadi di kalangan kita.

Ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Wlaupun pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpaskan dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda.

Sejak perperangan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti di Melaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate hingga perperangan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

Aceh adalah satu-satunya wilayah di Indonesia yang terakhir sekali yang jatuh ketangan tentera Kolonial Belanda, dan wilayah pertama keluar dari jajahanya.

Sumber daripada http://www.ummah.net/

0 comments:

Search This Blog