Others weblink

Powered by  MyPagerank.Net

Pages

ISLAMICFINDER

Wednesday, 30 July 2008

Islam di Akhir Sejarah

Nurfarid
Mahasiswa El Azhar University of New Damietta, Mesir

Setelah berahirnya perang dingin, keluarlah Amerika dan sekutunya (Barat) sebagai pemenang dan pengendali tunggal dunia. Sejak itu para pemikir Barat maupun non-Barat sibuk mencari hipotesa tentang bagaimana kelanjutan dari episode sejarah perjalanan umat manusia.

Adalah Francis Fukuyama, seorang ilmuwan berpengaruh di Barat melontarkan pemikirannya dalam artikel di jurnal Interest 1989 yang berjudul The End of History? Ia mengatakan bahwa setelah Barat menemukan rival ideologinya, monarki herediter, fasisme, dan komunisme, dunia telah mencapai satu konsensus yang luar biasa terhadap demoktrasi liberal. Ia berpendapat bahawa demokrasi liberal adalah semacam titik akhir dari sebuah evolusi ideologi atau bentuk final dari bentuk pemerintahan. Dalam hal ini Fukuyama sepertinya mamaksakan bangsa-bangsa non-Barat untuk mengikuti jejak langkah Barat dan menagdopsi demokrasi liberal sebagai ideologi negara.

Tesis Fukuyama ini banyak dikritik para pemikir. Kritik mereka didasarkan pada adanya dua kubu peradaban Barat yang keduanya ingin menjadi super power in the word, Amerika dan Eropa. Salah satu insiden yang menimbulkan gap di antara mereka adalah invasi AS atas Irak. Sehingga Thomas L Friedman dan Jonh Bilt (PM Swedia) bertanya, inikah akhir peradaban Barat? Begitu juga dengan Charlest A Kupchan, mengatakan bahwa perang peradaban mendatang terjadi antara Amerika dan Eropa.

Islam dan Barat
Berbeda dengan Fukuyama, Bernad Lewis melalui artikelnya yang berjudul The Roots of Muslim Rag membuat suatu paradigma bahwa setelah berahirnya perang dingin, Barat membutuhkan musuh baru yang akan menggantikan posisi komunis. Kemudian tentang siapa musuh barunya itu ia membahasnya dalam buku populer 'Islam and the West'. Sehingga dari sanalah muncul apa yang ia istilahkannya dengan benturan peradaban.

Gagasan Lewis ini diikuti muridnya, Huntington, dalam bukunya 'The Clash of Civization' and 'The Remaking and World Order'. Ia menuliskan bahwa Islam adalah satu-satunya peradaban yang pernah membuat Barat tidak merasa aman. Kemudian dia meneruskan pemikirannya ini dalam bukunya 'Who Are We?' Di sini Ia lebih jelas lagi memvonis Islam sebagai musuh Barat menggantikan posisi komunis.

Bahkan Petrick J Buchanan dalam artikelnya 'Is Islam an Enemy the United States?' ia menulis bahwa bagi sebagian orang Amerika yang mencari musuh baru untuk uji coba kekuasaan setelah runtuhnya komunis, Islam adalah pilihannya. Fenomena mutakhir seperti serangan WTC, invasi AS atas Afganistan, Irak, dan Somalia, dukunan AS atas Israel, tekanan AS atas Iran, insiden karikatur Nabi Muhammad SAW, seolah-olah membenarkan rumusan Lewis dan Huntington tentang benturan peradaban.

Bernad Lewis dan Huntington adalah ilmuwan Barat yang tak bersahabat dengan Islam. Merekalah yang sebenarnya mengompori panasnya hubungan Barat dan Islam. Berbagai mitologi dan demonologi terus dikembangkan seperti Islamic threat (ancaman Islam), Islamic peril (bahaya Islam), Islamic bomb dan sebagainya.

Islam is never die
Francis Fukuyama, Bernad Lewis, Samuel P Huntington dan para pemikir Barat lainnya yang paranoid terhadap Islam harus menengok kembali sejarah perjalanan umat manusia bahwa setiap peradaban memiliki batas waktunya dan setiap umat memiliki umurnya. Dalam hidup ini berlaku hukum alam yang tidak dapat dihindari, dielakkan dan diubah oleh akal serta tangan manusia, termasuk siklus kejayaan dan kehancuran suatu peradaban manusia. Arnold Toynbee sorang sejarawan Barat mengatakan bahwa di bumi ini telah ada sekitar 21 peradaban umat manusia yang jatuh secara silih berganti

Kalo Fukuyama mengatakan bahwa the end of history adalah peradaban Barat, maka penulis sendiri lebih yakin bahwa the end of history adalah peradaban Islam. Darimana kita tau itu, sedangkan Islam sendiri di abad modern ini belum memberikan karyanya yang khas yang menunjukan bahwa Islam akan bangkit dan menjadi akhir bagi sejarah peradaban umat manusia?

Setidaknya ada tiga alasan yang penulis jadikan sebagai sandaran. Pertama, pesan Rabbani, "Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia " (QS 3:140). Sepanjang sejarah, telah banyak yang berkuasa dan tidak satupun yang kekal. Sekarang, di mana peradaban Romawi? Tak ada bekasnya selain bangunan-bangunan kuno dan arsitek-arsitek material. Di mana peradaban Yunani? Musnah, tak mewariskan apapun selain filsafat nonesensial dan budaya paganisme. Di mana Peradaban Persia? Mati, Tak meninggalkan apa-apa selain cerita-cerita kuno. Dimana Uni Soviet dan komunisnya? Runtuh dan luluh. Semuanya mati dan hancur kecuali satu, umat Islam.

Kedua, pesan Nabawi. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Qubail, Abdullah Ibnu 'Ash berkata, "Ketika kami duduk bersama Rasullah SAW, apabila ia ditanya kota manakah yang akan pertama kali dibuka, Konstantinopel atau Roma? Rasulullah SAW menjawab, Konstantinopel yang akan pertama kali dibuka, kemudian Roma." Hadits ini menerangkan kepada kita bahwa para sahabat sebenarnya sudah mengetahui bahwa Konstantinopel dan Roma akan dibuka, tapi mereka ingin mengetahui mana yang akan pertama kali dibuka.

Ini adalah kabar gembira dari Rasulullah SAW yang pasti benar adanya. Sehingga pada tahun 1453 M Konstantinopel dapat dibuka oleh Sultan Muhammad Alfaatih. Tinggal satu imperium lagi yaitu Roma. Dan sebenarnya seketika itu juga Al Faatih telah menyiapkan pasukan untuk menyambut dan menyempurnakan kabar gembira dari Nabi SAW membuka Roma, tapi itu belum tercapai. Ini adalah kehendak Allah SWT agar tersisa amal/tugas bagi kita untuk membukanya.

Ada sebgian ulama yang berpendapat bahwa arti dari kata Rumiyyah di sana bukan Roma ibu kota Italia sekarang, tapi yang diingikan adalah makna majazinya yaitu imperium Barat khususnya Amerika.

Ketiga, adanya sinyal-sinyal keruntuhan peradaban barat. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal seperti terjadinya krisis moral dan kehampaan spiritual masyarakat Barat. Selain itu juga muncul paradok peradaban Barat dalam menetapkan kebijakan luar negerinya dengan menggunakan politik double standar. Inilah yang menyebabkan mereka kehilangan legitimasi dari dunia international. Barat juga sudah tidak pantas lagi memimpin umat manusia, karena mereka sudah lalai untuk bersikap persuasif, akomodatif, adil dan menjadi problem slover.

Barat terlalu angkuh dan sombong dengan kemajuan yang mereka capai baik dalam bidang ilmu dan teknologi, ekonomi, militer dan sebagainya, sehingga mereka merasa kuat dan tidak ada satupun yang mampu menandingi kekuatan mereka. "Adapun kaum 'Aad mereka menyombongkan diri di muka bumi tampa (mengindahkan) kebenaran dan mereka berkata sipakah yang lebih hebat kekuatannya dari kami. Tidakkah mereka memperhatikan Allah yang menciptakan mereka. Dia lebih hebat kekuaatan-Nya dari mereka." (QS 41:15).

Dari ketiga alasan tersebut, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kini peradaban Barat sedang menggelinding ke tepi jurang kehancuran sebagai akibat dari kelalaian, kesombongan dan kerusakan yang mereka jalankan. Munawar AM mengibaratkanya seperti menara gading atau bangunan kokoh yang perlahan tapi pasti, rayap-rayap sedang berkerumun menggerogoti tiang-tiang penyangganya. Begitu juga Bernard Shaw pernah mengatakan, "Romawi runtuh, Babylon runtuh, kini tiba giliran Amerika."

Di balik itu, arus kebangkitan Islam sudah menemukan momentumnya. Kini umat Islam sedang berjalan menuju kebangkitan peradaban Islam yang sudah diduga oleh dunia intelektual akan mengancam eksistensi peradaban Barat. Walaupun Barat berusaha semaksimal mungkin untuk membendung arus kebangkitan itu dengan berbagai strategi jahatnya seperti politik double standar, mitologi dan deminologi, paradigma kotor, dan propaganda jahat, juga invasi invasi Islam tak akan pernah mati.

Rujukan dari http://www.icmi.or.id/

0 comments:

Search This Blog